Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng di Kantor Kepresidenan Jakarta, Senin, mengatakan, hasil jajak pendapat LSI menyebutkan tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meningkat menjadi 58%.
"Artinya dukungan rakyat terhadap Presiden SBY tetap bertahan dalam tiga tahun ini. Bandingkan dengan presiden-presiden sebelumnya yang mengalami penurunan dukungan rakyat dalam tahun-tahun masa pemerintahannya," kata Andi.
Dari hasil survei LSI yang dikeluarkan Sabtu (6/10), Andi mengatakan, tingkat kepuasan rakyat masih tinggi karena menganggap program pemerintah yang dilakukan Presiden Yudhoyono sudah berada pada jalan yang benar, untuk meningkatkan kesejahteraan, membangun perekonomian, serta mengurangi kemiskinan dan pengangguran.
Jajak pendapat LSI ini juga menunjukkan adanya tren peningkatan kepuasan rakyat terhadap SBY dari posisi Maret 2007 sebesar 49,7%, Juli 2007 sebesar 56% dan pada 5 Oktober 2007 sebesar 58%.
Kenaikan tingkat kepuasan rakyat ini, lanjut Andi, juga sejalan dengan peningkatan persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional yang menunjukkan bahwa 64% peserta jajak pendapat menilai kondisi ekonomi membaik dan 32% menilai kondisi ekonomi memburuk.
Meski hasil jajak pendapat LSI menunjukkan peningkatan, menurut Andi, Presiden Yudhoyono merasa belum puas dan meminta agar terus dicermati hal-hal yang masih belum baik dan perlu ditingkatkan.
"Presiden sendiri belum puas terhadap kinerjanya, karena masih banyak yang harus dikerjakan dalam dua tahun ini. Beliau akan terus bekerja dan bekerja dalam dua tahun ini untuk rakyat," katanya.
Mengenai adanya sejumlah tokoh yang telah mengajukan diri sebagai bakal calon presiden pada 2009, Andi mengatakan, hal itu adalah hak azasi mereka.
"Kalau mereka tebar pesona, keliling ke mana-mana, ke gunung Merapi dan daerah bencana silakan saja," katanya.
Menanggapi hasil jajak pendapat lainnya dari Lingkaran Survei Indonesia yang justru menunjukkan dukungan masyarakat menurun terhadap Presiden Yudhoyono, Andi mengatakan, pihaknya hanya mempercayai hasil jajak pendapat yang obyektif, yang dihasilkan oleh lembaga survei yang non profit.
"Masing-masing lembaga survei memiliki metodologi yang berbeda, ada yang full profit dan ada yang non profit. Yang obyektif adalah yang non profit karena bisa memberikan kecerdasan dan pencerahan kepada masyarakat," katanya. (*/cax)