< >

Produk Hortikultura Jatim Telah Terapkan SPO

Senin, 22 Oktober 2007 18:48
Kapanlagi.com - Pengembangan tanaman pertanian hortikultura di Jatim saat ini sudah menerapkan Standar Prosedur Operasional (SPO), agar hasil panen tanaman memiliki kualitas baik dan berstandar internasional.

Kasubdin Produksi Hortikultura Dinas Pertanian Jatim, Ir Bambang Heryanto di Surabaya, Senin, mengatakan, SPO adalah pengembangan produk hortikultura dengan menerapkan sistem pertanian modern. Pola ini sudah mendapatkan pengakuan dari badan standar kesehatan produk pertanian internasional melalui PBB.

Manfaat penerapan SPO adalah diakuinya produk hasil pertanian saat diekspor ke beberapa negara tujuan tanpa banyak melalui sistem pengawasan yang rumit. "Ini karena, negara tujuan ekspor sudah percaya hasil produk tanaman," katanya mengungkapkan.

Produk hortikultura yang sudah menerapkan SPO antara lain, mangga, apel, manggis, durian, rambutan, pepaya, klengkeng, dan melon. Awal penerapan penerapan SPO di Jatim pada pengembangan produk hortikultura dimulai tahun 1993.

Di antara pengkajian yang harus dilakukan sebagai syarat utama penerapan SPO adalah harus memperhatikan ketinggian dan kemiringan lahan, struktur tanah yang gembur, PH (keasaman) tanah antara (5,5-6,5), kedalaman air tanah 50-200 sm, suhu udara 30 derajat celcius, curah hujan 1.000-1.500 mm/tahun, komposisi bulan basah dan kering adalah empat bulan basah dan delapan bulan kering.

Ketentuan tersebut, juga masih disesuaikan dengan karakter jenis tanaman. Dalam penerapan SPO, petani juga diharuskan membuat sketsa denah rencana tata guna/ruang kebun, serta melakukan pencatatan perkembangan tanaman setiap hari pertumbuhan, katanya memaparkan.

Salah satu komoditi produk hortikultura yang banyak mendapatkan manfaat setelah menerapkan SPO adalah buah mangga. Sebelum penerapan SPO, pengembangan mangga di Kabupaten Probolinggo produktivitasnya rata-rata 50 kg/pohon, dan kini menjadi 65 kg/pohon atau naik 25 persen.

Volume ekspor komoditas tersebut, juga mengalami peningkatan, dari 1.560 ton/tahun kini meningkat menjadi 1.650 ton/tahun atau naik 5,5%.

Pengembangan mangga melalui SPO sudah dilakukan di tujuh kabupaten, meliputi Pasuruan, Situbondo, Probolinggo, Bondowoso, Gresik, Magetan, dan Kediri. Penerapan SPO juga mempengaruhi peningkatan jumlah tanaman yang menghasilkan dalam setiap tahunnya rata-rata 1-1,5 juta pohon.

Data produksi mangga di Jatim selama tiga tahun terakhir menunjukkan, tahun 2004 mencapai 12.235.256 ton, 2005 sebanyak 12.265.168 ton, dan 2006 sebanyak 14.068.564 ton. Dengan rata-rata pertahun jumlah tanaman menghasilkan mencapai 13.231.192 ton.

Penerapan SPO pada komoditi mangga juga menarik perhatian negara maju. Salah satu buktinya, pemerintah Jepang ikut serta membantu pengembangan tanaman ini dengan menyediakan kebun bibit. Bantuan tersebut dilakukan melalui program Japan Bank For International Cooperation (JBIC) yang dilakukan sejak 1993 sampai sekarang.

Tahun 2006, Jepang menyediakan kebun bibit mangga seluas 1.500 ha di Kabupaten Situbondo. demikian Bambang. (*/rsd)