< >

Harga Minyak Goreng Bisa Naik Lagi

Rabu, 24 Oktober 2007 05:13
Kapanlagi.com - Harga minyak goreng dalam negeri diperkirakan dapat mengalami kenaikan akibat terdorong gejolak harga minyak bumi yang melampaui US$90 per barel.

"Sudah mulai ada sentimen yang mengaitkan harga minyak bumi dan harga minyak kelapa sawit (CPO), tapi sebetulnya pemanfaatan CPO untuk biodiesel kecil konsekuensinya harga minyak goreng naik," kata Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Makan Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga di sela-sela pembukaan Pameran Produk Ekspor 2007 di Jakarta, Selasa.

Sahat memperkirakan jika harga CPO naik menjadi US$825 per ton, maka kemungkinan kenaikan harga minyak goreng di dalam negeri sebesar Rp450-500 per kg.

"Sebelum Lebaran harganya Rp7.400 per kg (eks pabrik) bisa jadi Rp7.800-Rp7.900 per kg," ujarnya.

Pada kesempatan terpisah, Menteri Perindustrian Fahmi Idris mengatakan pemerintah kemungkinan menghindari opsi penurunan PPN (Pajak Pertambahan Nilai) BBM.

"Penurunan PPN BBM baru merupakan salah satu opsi. Tapi kembali lagi bahwa yang dihindari oleh pemerintah yaitu menghilangkan subsidi agar struktur harga menjadi struktur harga yang kompetitif," katanya.

Kebijakan Indonesia dalam menghadapi kenaikan harga minyak dunia, kata Fahmi, sama seperti yang dilakukan oleh negara-negara lain di dunia yaitu mengurangi subsidi.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan pemerintah sedang menghitung dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap industri dalam negeri.

"Belum selesai exercise,"ujarnya.

Menurut dia, pengaruhnya akan berbeda-beda pada setiap sektor, oleh karena itu pemerintah meminta pengusaha bagaimana melakukan efisiensi biaya dan melakukan diversifikasi energi.

Terkait kenaikan harga CPO, menurut Mendag, pemerintah akan melakukan evaluasi terhadap besaran Pungutan Ekspor (PE).

Persentase PE yang saat ini 7,5% bisa naik menjadi 10% jika harga rata-rata sebulan ini naik melebihi US$850 per barel.

"Awal November akan ditentukan harga baru," ujarnya.

Mendag memastikan perubahan PE akan mengurangi volume ekspor namun tidak terlalu mengganggu pasar dunia.

"Kalau terlalu besar, ya ... tidak terlalu produktif juga karena harganya akan naik lagi. Dengan perhitungan sekarang sekitar 5-8% penurunan volume ekspor dari data Januari-Agustus, tapi nilainya naik karena harga tinggi," jelasnya.

Sementara itu, untuk meringankan beban rakyat miskin, Mendag menambahkan pasar murah minyak goreng bersubsidi akan dilanjutkan pada 2008 pada evaluasi kebijakan itu dinilai efektif menekan harga. (*/rsd)