Jika pemerintah bersama pihak swasta melakukan kerjasama meningkatkan produksi beras dengan mengoptimalkan lahan dan bibit yang ada, Indonesia akan menjadi raja beras, tidak lagi sebagai negara pengimpor, kata Probosutedjo kepada Antara, di Sukamiskin, Bandung, Kamis.
Dikatakan, lahan areal tanah di Jawa saja, lebih dari 5 juta hektar sedang di luar Jawa di atas 6 juta hektar. Sementara di negara-negara pengekspor beras, luas lahannya di bawah yang dimiliki Indonesia, tetapi dapat memproduksi dua kali lipat dari yang diproduksi Indonesia.
Mengapa itu terjadi, karena pemerintah kurang serius dalam melakukan pengembangan, penanaman dan pemupukan dalam penanaman bibit padi. Dalam kaitan itu, Probosutedjo menguraikan hasil uji coba pengembangan bibit padi pandan wangi dari Jawa Tengah dengan pola pemupukan organik, bersumber dari pupuk kandang dan kompos menujukkan keberhasilan yang luar biasa.
Dari satu biji gabah, dapat menghasilkan 100-150 batang padi, dan masing-masing batang menghasilkan 38 biji gabah.
Saya melakukan uji coba di beberapa tempat di kawasan Sumedang dan Kerawang Jawa Barat, dengan menanam padi 1 hektar tanah dapat memproduksi 10-17,5 ton gabah. Sementara, produksi padi petani dengan pola konvensional per satu hektar hanya menghasilkan 4-6 ton dengan dua kali panen. Itu artinya, dalam 11,5 juta hektar hanya menghasilkan padi kurang dari 35,6 juta ton per tahun.
Jumlah konsumsi dari 220 juta jiwa, mencapai sekitar 38 juta ton per tahun, sehingga kekurangannya ditutup dengan impor dari Thailand, Viet Nam dan India. Kita dapat menjadi raja beras di dunia dan sebagai negara pengekspor beras dengan pupuk organik ke China dan Eropa jika pemerintah mau mendukung pola pengembangan tanam padi dengan pola Medpro (Metode Probo), katanya, seraya menambahkan, saat ini kita sudah melakukan uji coba dan berhasil.
Ia mencontohkan uji coba tanam padi dengan pola Metpro di lingkungan Lembaga Pemasarakatan Sukamiskin, Bandung, cukup berhasil. Menanam 5 kg gabah dalam satu hektar dapat menghasilkan 17,5 ton. Sayangnya, di Lapas ini tak ada lahan seluas itu, tetapi uji coba ini dapat menunjukkan, ide Metpro adalah benar adanya dapat diwujudkan.
Menjawab pertanyaan, Probo mengatakan, dalam penanaman itu, pihaknya sudah menyediakan dua jenis pupuk organik yang dinamakan Cendana I dan Cendana II berbentuk cairan. Pupuk Cendana I untuk Strength dan Cendana II untuk Power. Keduanya diproduksi oleh Pak Harto Center.
Kerjasama dengan HKTI
Guna mewujudkan swasembada beras nasional, pihaknya akan melakukan kerjasama dengan berbagai pihak. Dikatakan, pihaknya sudah mendapat tawaran kerjasama dengan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) untuk sama-sama mengembangkan tanaman padi dengan pupuk organik.
Sementara itu Pengurus HKTI Jawa barat yang juga dosen pertanian Universitas Padjajaran Dr. Wienny H. Rizky menambahkan, metode penanaman padi ala Probosutedjo dapat diuji secara ilmiah.
Sebagai seorang peneliti pembibitan saya percaya dengan metode itu, karena itu saya akan mencoba mensosialisasikan dengan kalangan akademik dan HKTI untuk kemungkinan kerjasama dalam pengembangan penanaman padi organik,? kata Wienny.
Ia mengatakan, Indonesia merupakan negara agraris yang kaya dengan sumber daya alam, namun rakyatnya banyak yang miskin karena tidak dapat memanfaatkan SDA itu. Melalui kerjasama pengembangan dengan Probosutedjo, insa Allah akan ada hasilnya, utamanya dalam hal penciptaan swasembada beras organik yang kini menjadi trend dunia.
Harga di pasar internasional, jenis beras organik 5 kali lipat dari beras pupuk unorganik. China dan negara-negara Eropa kini sedang gencar mencari beras organik, dan Indonesia mempunyai potensi besar untuk memasoknya, katanya. (kpl/rit)