< >

Ekspor Ilegal Marak, Pasokan Rotan Dalam Negeri Seret

Kamis, 25 Oktober 2007 19:52
Kapanlagi.com - Pengusaha mebel dan kerajinan rotan mengeluhkan sulitnya mendapat pasokan rotan yang diduga terjadi akibat meningkatnya ekspor ilegal.

"Kesulitan mendapatkan pasokan bahan baku rotan itu tidak hanya dirasakan oleh pengusaha mebel dan kerajinan rotan tapi juga para pemasok rotan kami dari Sulawesi,"kata Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (ASMINDO), Sae Tanangga Karim, di Jakarta, Kamis.

Tanangga menduga seretnya pasokan bahan baku rotan itu terjadi akibat ekspor rotan ilegal karena berdasarkan catatan Departemen Perdagangan, realisasi ekspor rotan selalu jauh di bawah kuota yang ditetapkan.

"Mungkin (rotannya) hilang semua di ekspor secara ilegal,"ujarnya.

Tanangga mengungkapkan bahan baku rotan mengalir sangat deras ke luar negeri sejak aturan ekspor rotan dikuotakan. Setidaknya ada 200 kontainer yang masing-masing berkapasitas 13 ton - 15 ton yang diekspor dari Surabaya setiap pekan.

Ia menduga rotan Sulawesi yang diminati produsen mebel Indonesia telah diekspor melebihi kuota. Modusnya dengan mencampur dalam satu kontainer dengan rotan lain yang kurang diminati produsen dalam negeri.

"Memang lebih baik tidak diekspor sebagai bahan baku, tapi sebaiknya dilakukan bertahap,"usulnya.

Sulitnya mendapatkan pasokan rotan, lanjut dia, menyebabkan pengusaha menunda pengiriman barang kepada pembeli.

"Tidak sampai ada pembatalan kontrak tapi harga produk jadi mahal dan nantinya dikhawatirkan tidak bisa berkompetisi,"tambahnya.

Ia mengatakan ASMINDO telah meminta pada Departemen Perdagangan untuk menghentikan ekspor selama 6 bulan untuk melakukan evaluasi dan mencari penyebab sulitnya mendapatkan pasokan rotan.

"Kita lihat apakah dengan begitu pasokan bahan baku bisa kembali didapatkan,"ujarnya.

Setelah itu, pada pertengahan November ini, Departemen Perdagangan akan berdiskusi dengan seluruh pemangku kepentingan dalam industri rotan untuk membahas fakta yang ditemukan di lapangan.

Menurut Tanangga, pemerintah harus mendorong pengembangan industri mebel rotan mengingat Indonesia adalah penghasil rotan terbesar di dunia.

"Saat ini Cina mulai menyamai porsi pangsa pasar ekspor mebel rotan dunia, mereka akan dengan mudah bisa mengalahkan kita jika masalah ini dibiarkan,"katanya. (*/rsd)