"Kami menyiapkan 200 hingga 500 hektar lahan khusus untuk perkebunan jagung. Memang lahan itu tidak terlalu luas, tetapi itu yang tersisa," kata Bupati Simalungun, Zulkarnaen Dalmanik, di Jakarta, Kamis.
Dalmanik mengatakan dari 460.000 hektar dengan jumlah penduduk mencapai 841.000 orang, hampir 50 persen luas lahan Kabupaten Simalungun telah menjadi perkebunan.
"Kurang lebih 200.000 hektar lahan di Simalungun telah diinvestasikan menjadi perkebunan sawit, karet, dan kopi," katanya.
Dia mengatakan dalam beberapa tahun terakhir Pemkab Simalungun giat menawarkan sisa lahan agar investor masuk dan mengembangkan perkebunan di sana.
Dan khusus lahan yang memang tidak terlalu luas, hanya 200 hingga 500 hektar, Pemkab mengkhususkan untuk perkebunan jagung, ujar dia.
Menurut dia, problem utama Kabupaten Simalungun adalah masalah listrik yang membuat para investor tidak jadi menginvestasikan dananya di daerah tersebut.
Untuk itu, dia mengatakan, pemerintahannya siap memperbaiki infrastruktur termasuk sesegera mungkin menyediakan listrik. Saat ini usaha penyediaan listrik di daerah tersebut akan terealisasi dengan telah ditandatanganinya MoU Pembangunan PLTA dengan PT PLN (Persero).
Selain itu, pada kesempatan yang sama Damanik mengundang para investor untuk menginvestasikan dananya pada industri hilir pertanian dan perkebunan.
"Saat ini belum ada investor yang bergerak di sektor hilir dari perkebunan sawit dan karet. Selama ini produk yang dihasilkan baru sebatas CPO dan lateks, karena itu kami ingin investor juga masuk ke sektor hilir," ujar dia.
Dalmanik mengatakan saat ini di Simalungun memang sedang giat mengembangkan jagung yang digunakan sebagai energi alternatif selain jarak pagar. Dan sejumlah investor asing termasuk dari Amerika Serikat telah mengembangkan perkebunan jagung di kabupaten tersebut.
Dia menjanjikan pelayanan singkat bagi para investor untuk pengurusan ijin, termasuk IMB yang dijamin selesai dalam waktu tiga hari. (*/rsd)