Pabrik Migor Pertahankan Harga Tidak Naik
Kapanlagi.com - Pabrik minyak goreng di Propinsi Sulawesi Utara (Sulut) pertahankan harga jual tidak akan naik dalam kurun waktu satu bulan ke depan. "Kenaikan harga Crude Palm Oil (CPO) masih bisa ditutupi dengan pembebasan pajak pertambahan nilai (PPN), makanya pertahankan harga tingkat pabrik pada Rp7500 hingga 7600 per Kilogram (Kg),"kata General Manager PT Bimoli Manado, Stevanus Prasethio, Kamis di Manado. Kebijakan belum naikkan harga juga didasari optimisme bahwa harga CPO pasti akan turun ke tingkat yang wajar, setelah mengalami kenaikan menyusul naiknya harga minyak mentah di pasar dunia beberapa waktu lalu. "Terjadinya kenaikan harga CPO hanya bersifat temporer, maka tidak wajar kalau langsung menaikkan harga jual migor ke masyarakat,"kata Stevanus. PT Bimoli setiap bulan memproduksi sekitar 2000 ton minyak goreng sawit, jumlah tersebut dipasok guna memenuhi kebutuhan masyarakat Sulut hingga Sulawesi Tengah (Sulteng). Kepala Sub Dinas Perdagangan Dalam Negeri, Disperindag Sulut, Janny Rembet, mengatakan, kendati sampai saat ini belum terjadi fluktuasi harga migor di pasaran, tetapi kuatir bila harga CPO naik tidak terkendali, maka pabrikan akhirnya tak mampu tahan kestabilannya. "Pemerintah daerah akan terus lakukan koordinasi dengan pabrikan, termasuk soal harga jual, guna mencari jalan alternatif bila terjadi kenaikan tinggi, sebab masyarakat pasti akan bereaksi,"kata Janny. Salah satu kebijakan yang terus dimatangkan yakni mempercepat penyaluran migor bersubsidi di mana Sulut mendapat alokasi 70 ribu liter, yang kalau sudah direalisasikan pasti ada dampak terhadap penurunan harga migor. Di Sulut terdapat tiga pabrik migor sawit besar, yakni PT Bimoli, PT Multi Nabati Sulawesi dan PT Agro Makmur Raya, dengan kapasitas normal mencapai 800 ton per hari, sedangkan kebutuhan masyarakat Sulut rata-rata 2500 ton per bulan, dan akan meningkat dua kali lipat pada hari raya keagamaan seperti Natal dan Idul Fitri. Harga eceran migor di pasar tradisional dan modern di Manado saat ini berkisar Rp8000 hingga Rp9500 per Kilogram. (*/rsd) |