Hal itu dikemukakan peneliti teh dari pusat penelitian Teh dan Kina Indonesia, Dr. Atik Dharmadi usai mengikuti pembukaan Festival Teh Sedunia (World O-Cha Festival) yang berlangsung di Shizuoka, 90 menit dari Tokyo dengan Shinkansen (kereta api super cepat), Kamis.
"Konsistensi promosi itu perlu mengingat Jepang sebagai negara yang terkenal ketat dalam menjaga kualitas suatu produk. Dengan konsistensi publik Jepang dapat mengetahui secara pasti kemajuan kualitas teh Indonesia," ujar Sekretaris Eksekutif Asosiasi Teh Indonesia itu.
Menurut dia, tidak konsistennya promosi di luar negeri membuat teh Indonesia kalah populer dengan produk lainnya. Belum lagi kecintaan rakyat Jepang terhadap teh buatannya sendiri yang memang sudah terkenal luas di manca negara.
"Dengan mengikuti berbagai festival internasional, maka selain dikenal lebih luas juga dapat melihat inovasi dari produk teh negara-negara lainnya. Apalagi di Jepang yang mampu membuat berbagai jenis makanan dan minuman yang berasal dari teh," ujarnya.
Menyinggggung soal prospek teh Indonesia sendiri di pasaran dunia, ia mengatakan bahwa teh Indonesia cukup dikenal, namun tidak memiliki nilai tambah yang lebih, seperti teh Jepang, terutama teh hijaunya.
"Kualitas teh Indonesia sebetulnya lebih bagus dibanding teh Jepang dalam menjaga kesehatan tubuh. Kandungan senyawa katekin yang ada di dalam dauh teh Indonesia lebih banyak ketimbang teh Jepang," ujarnya.
Katekin merupakan senyawa utama dari dauh teh yang diketahui mampu menjaga kesehatan jantung dan mampu mencegah kolestoral dan kanker. Kandungan katekin teh Indonesia berkisar 13-14%, sedangkan teh Jepang di bawah sepuluh%.
Hal tersebut dibenarkan oleh pakar kesehatan makana Itaro Oguni, profesor Ilmu Makanan dari Hamamatsu University. Profesor inilah yang memperkenalkan khasiat teh bagi kesehatan manusia di Indonesia hampir 20 tahun lalu.
Ia juga memperkenalkan produk-produk inovatif dari teh yang terus dikembangkan Jepang, seperti botol teh yang berisi bubuk teh di tutup botolnya. Air putih yang di dalam botol baru bisa menjadi teh hijau (Ocha) jika dikocok lebih dulu agar bubuk teh yang tersimpan di tutup botolnya bisa bercampur dnegan air putih tadi.
"Ini produk yang bisa menjamin teh tetap berkualitas baik dalam waktu yang lama, karena tidak langsung bercampur dengan air," ujarnya.
Tembus pasar Jepang
Sementara itu, Atase Perdagangan KBRI Tokyo Tulus Budhianto mengatakan, Indonesia perlu lebih fokus meningkatkan upaya ekspor teh ke Jepang yang belakangan menurun, untuk bisa kembali meraih peluang pasar yang besar di Jepang.
"Festival internasional seperti ini penting bagi Indonesia untuk membangkitkan kembali pasar teh Indonesia di Negeri Sakura ini," kata Tulus yang mewakili Dubes RI untuk Jepang Jusuf Anwar di pembukaan festival teh dunia tersebut.
Indonesia berada di peringkat lima dunia sebagai negara pengeskpor teh, hanya kalah dari kenya, Sri Lanka, China dan India. Rata-rata ekspor teh Indonesia sekitar 110 ribu ton setiap tahunnya.
Lima tahun sebelumnya Indonesia mampu mengekspor sampai 160 ribu ton per tahun. Sementara ke Jepang sendiri Indonesia hanya mengekspor 3.000 ton per tahun.
Dalam pandangan Tulus, Jepang termasuk sebagai lima negara terbesar pengkonsumsi teh di dunia dengan rata-rata 146 ribu ton pertahun.
"Saatnya Indonesia memperbesar ekspor ke Jepang dan Asia, setelah dikenal luas di Eropa dan Amerika serikat," ujarnya.
Dia pun menekankan pentingnya tiga pilar dalam membangun produk teh Indonesia di pasar internasional, yakni pebisnisnya, pengusaha dan dibantu oleh kalangan akademisi.
"Hal itu perlu guna mengembangkan produk teh yang inovatif dan sesuai selera pasar," katanya. (kpl/rit)