"Kita sebenarnya baru rencana untuk mengimpor tabung, dan sekarang rencana itu tidak diteruskan," kata Wakil Dirut PT Pertamina (Persero), Iin Arifin Takhyan, di Jakarta, Kamis.
Selain itu, Iin mengatakan, tidak benar bahwa Pertamina telah lebih dulu melakukan impor untuk pengadaan tabung gas guna mempercepat pelaksana konversi minyak tanah ke elpiji seperti yang menjadi dugaan Menteri Perindustrian Fahmi Indris.
Saat dikonfirmasi, dia mengatakan, Pertamina akan menyerahkan masalah pengadaan tabung gas elpiji tiga kilogram tersebut pada kebijakan pemerintah.
Sementara itu, Menteri Perindustrian Fahmi Idris meminta pihak berwenang mengusut kedatangan tabung gas tiga kilogram yang telah masuk ke Pelabuhan Tanjung Priok pada 27 Oktober lalu yang dianggap janggal.
Fahmi menganggap masuknya dua container tabung gas tiga kilogram yang disinyalir milik Global Pasific Energy (GPE) tersebut janggal karena hanya selang waktu satu hari setelah Pertamina menyatakan akan melakukan impor tabung gas.
Oleh karena itu, dia mengatakan, Depperin akan terus berkoordinasi dengan pihak Bea Cukai untuk menjaga agar tabung gas yang telah masuk ke Indonesia itu tidak beredar.
Kebutuhan tabung elpiji tiga kilogram untuk konversi sendiri mencapai 10,2 juta unit, dan saat ini baru terpenuhi 5,6 juta tabung. Rencana sebelumnya, ada wacana untuk mengimpor sisa tabung yang belum terpenuhi sebanyak 4,6 juta tabung, dan untuk tahap awal rencananya Pertamina akan mengimpor dua juta tabung dari Taiwan.
Atas rencana impor tersebut Departemen Perindustrian (Depperin) maupun Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (KUKM) menjadi berang.
Rencananya, Senin (5/11), Menpperin akan melakukan "breakfast meeting" untuk membahas masalah tabung gas tersebut, termasuk dengan pihak Pertamina. (kpl/rit)