Heri (43) salah seorang pengusaha bus antarkota antarprovinsi Jambi yang sudah lebih dari dua tahun "mengandangkan" armada busnya, Kamis, mengakui selama ini terus merugi akibat penumpang bus beralih menggunakan angkutan udara.
Rencana pemerintah akan menaikkan tarif pesawat sehubungan terus naiknya harga minyak mentah dunia yang kini sudah mencapai USD 90.07 per barel, membawa angin segar bagi pengusaha bus, jika harga BBM untuk angkutan darat tidak dinaikkan.
Ia mengakui hampir seluruh PO AKAP asal Jambi dan sejumlah kota lainnya di Sumatera yang melayani rute ke Pulau Jawa menghentikan operasionalnya, karena biaya operasional tidak sebanding dengan pendapatan.
Arus mudik dan lebaran yang diharapkan dapat memberikan keuntungan, ternyata juga tidak mampu memberikan pendapatan dan penghasilan yang memuaskan, karena memasuki H+7 penumpang sudah sepi.
Nada serupa juga diungkapkan Syamsudin (50), agen PO AKAP Bintang Selatan, diharapkan pemerintah benar-benar menerapkan dan memberlakukan kenaikan tarif pesawat yang informasinya hingga 80%.
Kenaikan tarif pesawat itu nantinya akan turut menggerakkan kembali ekonomi masyarakat, terutama yang membuka usaha di sepanjang jalur yang dilalui.
Para pengusaha rumah makan, bengkel kendaraan, tambal ban, pemasok sayur-sayuran dan kebutuhan lainnya untuk rumah makan akan kembali bersemangat.
"Pekerja restoran yang sebelumnya sempat di rumahkan, akan kembali dapat bekerja, begitupun kernet dan supir yang juga diberhentikan oleh perusahaan bus bisa bekerja kembali," kata Syamsudin. (*/rsd)