"Bagaimana terpenuhi, hampir 50% nelayan kita sudah tidak dapat melaut akibat mahalnya BBM, sehingga kapal yang biasanya menangkap ikan yang perutnya memiliki nilai jual tinggi kini banyak yang dijual," kata Habib, Jumat.
Sebelum nelayan menghadapi masalah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), dirinya mampu memenuhi permintaan amplus yang dicampur dengan sirip ikan hiu sebanyak dua ton per bulan. Namun akhir-akhir ini ia hanya mampu mengirim sekitar tiga kwintal per bulan.
"Padahal negara pedagang Singapura, Thailand, Hongkong termasuk China, dan Malasia memerlukan amplus dalam jumlah tak terbatas, untuk kesehatan fitalitas dan perawatan tubuh," terangnya.
Agar dapat memenuhi permintaan pasar luar negeri tersebut, Habib yang mengaku telah berdagang amplus dan sirip ikan hiu sejak 1982 tersebut, mengaku telah mencoba mencari dan memesan kepada para nelayan di Kabupaten Kotabaru dengan harga yang cukup mahal.
"Akan tetapi karena banyak nelayan yang kapalnya sudah dijual, maka permintaan amplus oleh negara tetangga tidak pernah kita penuhi," kata Habib, seraya menambahkan bahwa amplus yang memiliki nila jual tinggi diantaranya amplus ikan kuram dengan nilai jual Rp550 ribu sampai Rp1.3 juta per kg, ikan uming nilai jual Rp700 ribu sampai Rp1.5 juta.
Amplus ikan kabab seharga Rp150 ribu sampai Rp300 per kg, amplus ikan mayong Rp65 ribu sampai 150 ribu per kg, dan amplus ikan otek Rp60 ribu sampai 150 ribu per kg.
Iswaldi (42), pedagang ikan di Komplek Pasar Kemakmuran Kotabaru, mengaku, sudah hampir satu tahun ini pihaknya sangat jarang membeli amplas dari nelayan yang beroperasi menangkap ikan di perairan bebas, seperti Selat Makasar, dan Jawa.
Menurut Heri (32), seorang nelayan Patmaraga, Kotabaru, mengaku sudah tidak dapat menangkap ikan yang perutnya memiliki nilai jual mahal di perairan dangkal. "Kalau mau menangkap ikan yang amplusnya mahal harus di perairan bebas, dan diperlukan modal besar," katanya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kotabaru, Ir Sabri Madani, mengungkapkan, jumlah nelayan di Kotabaru sebelum terjadi gejolak kenaikan harga BBM sekitar 15.388 orang, mereka tersebar di 20 kecamatan.
Namun karena tak dapat bertahan oleh mahalnya BBM dan barang yang lainnya, sekitar 20-50 persen nelayan tersebut beralih profesi mencari usaha lain, seperti menjadi petani, pedagang keliling, kuli bangunan, menarik beca, mengojek serta usaha lainnya. "Lebih 20 persen mereka sudah meninggalkan usaha yang sudah ditekuni sejak nenak moyangnya," kata Sabri.
Ia mengaku masih mencari solusi untuk program membangkitkan kembali kondisi nelayan Kotabaru yang semakin terpuruk tersebut. "Kami sedang berupaya mencarikan solusi agar mereka kembali dapat bekerja seperti biasa, menangkap ikan," paparnya.
Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kotabaru, H Ansyari Suryadi, hingga saat ini belum dapat dikonfirmasi, terkait menurunnya pengiriman amplus ke luar negeri. (*/rsd)