"Saya pikir kinerjanya masih baik karena permintaan yang tinggi dan harga yang relatif masih tinggi," kata Mari Pangestu di Jakarta, Jumat.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan pada September, nilai ekspor CPO mencapai US$479,2 juta atau turun sekitar 30% dari bulan sebelumnya US$684,2 juta , sehingga mendorong penurunan kinerja ekspor September 0,91 % menjadi US$9,52 miliar dari US$9,6 miliar Agustus.
Penurunan nilai ekspor CPO (minyak kelapa sawit mentah) itu karena adanya penurunan volume ekspor dari 960 ribu ton pada Agustus menjadi 618 ribu ton menyusul kebijakan pemerintah untuk menaikkan pungutan ekspor (PE) untuk CPO dan produk turunannya.
Mendag mengatakan, penurunan ekspor CPO September merupakan tren musiman.
Harga CPO di Roterdam yang pada awal September masih sekitar US$815 per ton , hari ini (Jumat 2/11) telah mencapai US$950 per ton. Kenaikan harga CPO internasional diduga didorong oleh kenaikan harga minyak mentah yang sempat menembus US$96 per barel.
"Kenaikan harga karena pengaruh harga minyak mentah juga," ujarnya.
Oleh karena itu, Mendag optimistis kinerja ekspor CPO di akhir tahun 2007 tetap baik dan bisa mendorong ekspor nonmigas secara total.
"Ekspor Januari-September kan kenaikan nilainya masih sekitar 50%, kinerja ekspor year on year-nya juga naik," tambahnya.
BPS mencatat ekspor nonmigas pada September mencapai US$7,54 miliar, turun 2,68 % dari bulan sebelumnya, sedangkan dibanding ekspor September 2006 meningkat 4,16 %.
Menurut BPS, secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari- September 2007 mencapai US$83,02 miliar atau meningkat 12,88 % dibanding periode yang sama tahun lalu, sementara ekspor nonmigas mencapai US$67,65 miliar atau meningkat 17,47 %.
Sedangkan menurut sektor, ekspor hasil pertanian, hasil industri serta hasil tambang dan lainnya pada periode Januari- September meningkat masing-masing sebesar 11,25 %, 15,97 % dan 29,30 % dibanding periode yang sama tahun lalu. (*/rsd)