< >

Kenaikan Harga BBM Makin Beratkan Sektor Industri

Jum'at, 02 November 2007 23:11
Kapanlagi.com - Kalangan industri di Jawa Tengah mengeluhkan kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) industri sebesar 2,9% hingga 6,4% per 1 November 2007 sangat memberatkan karena bakal membengkakkan biaya produksi.

"Kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM industri dinilai tidak berpihak pada kalangan pengusaha karena dinilai semakin memberatkan industri," kata Murdayanto (51) anggota Kadin Provinsi Jateng, di Semarang, Jumat.

Kenaikan BBM industri per 1 November 2007 itu berdasarkan SK Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina (Persero) No. Kpts 681/F00000/2007-SO. Keputusan menaikkan BBM industri akibat adanya pengaruh kenaikan harga minyak mentah di pasar dunia.

Harga BBM per 1 Agustus 2007 untuk jenis premium naik 3,4% atau menjadi Rp5.556,00 per liter, minyak tanah naik 3,4% (Rp6.237,00 per liter), solar naik 3,7% (Rp6.227,00 per liter), minyak diesel naik 2,9% (Rp6.030,00 per liter), dan minyak bakar naik 6,4% (Rp4.347,00 per liter).

Sementara harga minyak tanah bersubsidi untuk masyarakat dan industri kecil tidak mengalami kenaikan, yakni tetap Rp2.000,00 per liter. Sedangkan harga BBM premium maupun solar bersubsidi bagi transportasi tidak mengalami perubahan, yakni premium Rp4.500,00 per liter dan solar Rp4.300,00 per liter.

Menurut dia, kenaikan harga BBM industri akan berakibat semakin melambatnya pertumbuhan ekonomi di daerah karena kondisi ini akan membuat produktivitas setiap industri menjadi berkurang.

Oleh karena itu, katanya, pemerintah perlu memberikan subsidi kepada kalangan industri agar usahanya tetap berjalan. "Tanpa ada subsidi keberlangsungan usaha kalangan industri akan bertambah berat," katanya.

Ia mengakui, saat ini ada kalangan industri tekstil yang sudah memanfaatkan bahan bakar batu bara sebagai pengganti BBM. Namun jumlahnya masih sedikit. "Jika harga BBM industri terus melambung bukan tak mungkin kalangan industri akan mencari BBM alternatif," katanya.

Dengan pemakaian bahan bakar batu bara, maka pengusaha dapat mengirit biaya operasional cukup signifikan daripada menggunakan BBM. "Pengusaha memang sudah saatnya memikirkan pemakaian energi alternatif sehingga tidak tergantung BBM,` kata Suroso Sumarno (49) pengusaha mebel di Semarang.

Ia mengatakan, dengan menggunakan bahan bakar nonBBM maka pengusaha tidak terpengaruh dengan adanya kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM industri. "Pengusaha mulai kini jangan menggantungkan diri pada BBM," katanya. (*/rsd)