Direktur Industri Makanan Departemen Perindustrian (Depperin) Yelita Basri pada diskusi dengan wartawan bidang industri di Jakarta, Jumat, mengakui penerapan PE yang disamaratakan antara produk hulu dan hilir CPO tidak harmonis.
"Saat ini untuk stabilisasi harga (minyak goreng di dalam negeri), kebijakan PE sama dulu. Kalau dibedakan, karena pengawasannya sulit, maka dikhawatirkan produk hilir CPO (minyak goreng) diekspor," ujarnya.
Ia mengatakan, bila stabilisasi harga minyak goreng tercapai, maka tidak tertutup kemungkinan pemerintah melakukan harmonisasi PE. Dalam kebijakan sebelumnya, produk turunan CPO, PE nya lebih kecil dibandingkan CPO.
Yelita menegaskan, kebijakan yang diambil pemerintah saat ini juga bertujuan untuk mengembangkan industri hilir CPO agar memiliki produk yang memiliki daya saing komparatif itu memberi nilai tambah yang besar bagi Indonesia.
Ia mengatakan dalam penelitian pihaknya, pengembangan industri hilir CPO mempunyai nilai tambah 525 kali lebih besar dibandingkan Indonesia hanya mengekspor CPO.
Namun, dikatakannya, dalam pengembangan industri hilir tersebut, pemerintah tidak akan melakukan tergesa-gesa, tapi dilakukan secara bertahap, tanpa meninggalkan pasar ekspor CPO yang sudah ada.
"Kebijakan PE sendiri akan dievaluasi secara berkala dalam tiga bulan dengan melihat dampak PE terhadap stabilisasi harga minyak goreng di dalam negeri dan kinerja industri CPO sendiri," katanya.
Oleh karena itu, katanya, meskipun harga minyak goreng belum stabil sekalipun, namun bila kinerja industri justru memburuk, maka tidak evaluasi untuk harmonisasi akan dilakukan pemerintah.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga mengatakan tidak harmonisnya PE CPO dan turunannya menurunkan kinerja industri hilir CPO, karena industri hilir CPO menjadi tidak bersaing di pasar internasional, sementara penyerapan pasar domestik masih kecil terhadap turunan CPO, baik untuk minyak goreng, kosmetik, dan lain-lain.
"Kami mengharapkan PE turunan CPO dibedakan dengan CPO-nya, agar industri hilir bisa berkembang," ujar Sahat. (*/rsd)