"Hubungan permusuhan antara Jepang dan China adalah satu beban bagi Korsel," kata Presiden Roh Moo Hyun dalam satu wawancara dengan surat kabar Jepang Asahi Shimbun, Jumat di Seoul.
"Kedua negara harus melakukan usaha-usaha untuk mengubah hubungan mereka menjadi saling hati-hati dan tentang perluasan persenjataan militer mereka. Tidak bisa dielakkan bahwa mereka akan (saling) bereaksi secara sensitif," tambahnya.
Beijing meningkatkan pengeluaran militer untuk memperoleh kapal-kapal perang baru, pesawat-pesawat tempur dan rudal-rudal yang dapat mencapai di luar pantai. China melakukan ujicoba anti satelit Januari, yang mencemaskan tetangga-tetangganya dan AS.
Negara-negara Barat dan Jepang mendesak China lebih transparan dan menjelaskan niat-baiknya.
Jepang, kendatipun mempunyai konstitusi damai, memiliki salah satu dari militer-militer paling canggih dunia, yang disebutnya "Pasukan Pertahanan Diri."
"Jepang berada dalam satu posisi yang membuat Asia Timurlaut merasa tidak aman," kata Roh.
"Misalnya, sikap Jepang yang menyatakan Korsel bukan satu lawan berat karena adalah sebuah negara kecil. Atau juga negara itu menunjukkan kehati-hatian dan tidak percaya pada China, yang di masa depan kedua negara bisa memiliki hubungan bermusuhan," tambahnya.
Jepang sedang berusaha meningkatkan kehadiran internasionalnya untuk menyesuaikan kekuatan ekonominya, tetapi terpaksa menarik dukungan pada koalisi pimpinan AS di Afghanistan karena konflik politik di dalam negeri.
Menyangkut hubungan dengan Korsel, Roh mengatakan Jepang tidak perlu meminta maaf lagi atas agresinya semasa perang jika negara itu tetap mempertahankan kebijakan damai terhadap tetangga-tetangganya.
"Jika Jepang menunjukkan bahwa negara itu memiliki keinginan untuk memainkan peran penting dalam perdamaian dunia melalui rekonsiliasi dan kerja sama, sikap Korsel terhadap masa lalu mereka akan lunak dan akan segera melupakan peristiwa-peristiwa masa lampau itu," katanya. (*/lpk)