Pelatih Sulawesi Utara, Adrianus Taroreh yang juga mantan petinju nasional, berteriak-teriak melakukan protes ketidak puasaan atas keputusan wasit yang memberikan hitungan kepada petinjunya, Bili Datun Solang ketika menghadapi petinju tuan rumah Franklin Silaban pada penyisihan kelas 48 kg kadet.
Akibatnya wasit menghentikan pertandingan yang cukup seru dan adu jual pukulan tersebut pada detik-detik terakhir ronde pertama (Rsc), sehingga membuat Adrianus semakin marah dan menuduh wasit merusak jalannya pertandingan kejurnas tinju tersebut.
"Bagaimana tinju Indonesia bisa maju, jika wasit bertindak tidak adil. Petinju yang masih berdiri kokoh diberi hitungan, sementara lawan yang kena pukulan telak tidak dihitung," ucap Adrianus sambil berlari menuju meja komisi wasit.
Puluhan aparat keamanan dari kepolisian, TNI dan panitia termasuk Ketua Wasit Hakim PB Pertina, Asril Goce terlihat terpaksa memegang dan menenangkan Adrianus dan beberapa petinju putra-putri Sulawesi Utara tampak menangis menyesali kekalahan petinju mereka, Bili.
Babak penyisihan kadet putra, pada hari kedua mulai memanas, karena delapan partai berakhir dengan kemenangan RSC atau tidak berimbang, sehingga jalannya pertandingan yang disaksikan ribuan penonton lebih cepat selesai.
Hasil kelas 46 kg, Rois S dari Sumatera Selatan menang angka atas M.Taufik (Riau), Jufrist dari Sulawesi Utara menghentikan perlawanan Rayandra (Jambi) pada ronde I, kemudian M Syahroni dari NAD menang RSC ronde I atas Husen Haryadi (Lampung) dan Maladi (Sumut) menang RSC I atas Feri (Bengkulu).
Kelas 48 kg, Dimas Leon R dari Jawa Tengah yang memiliki postur lebih tinggi mengalahkan Adi Trisna satu dari dua petinju Bali yang dikirim mengikuti kejurnas, juga melalui RSC ronde I.
Partai lainnya di kelas 48 kg, Cut Nandar dari NAD mampu menahan pukulan-pukulan keras Clinton Sitanggang dari Sumut dan menjelang akhir ronde pertama balik menyarangkan beberapa pukulan telak dan akhirnya wasit menghentikan pertandingan kemenangan untuk petinju dari Tanah Rencong tersebut. (*/cax)