< >

Pengusaha Blokir Pembangunan Tanggul Lumpur

Kamis, 15 November 2007 13:55
Kapanlagi.com - Para pengusaha yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Korban Luapan Lumpur (GPKLL), Kamis memblokir akses masuk truk sirtu untuk membangun tanggul ke Desa Ketapang, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo.

Aksi demo ini dilakukan karena mereka menilai ganti rugi yang diberikan Lapindo Brantas Inc. tidak adil. Selain diikuti para bos pemilik pabrik, aksi ini juga diikuti karyawan pabrik. Mereka membentangkan poster dan melakukan orasi.

Para pengusaha ini mengatakan telah terjadi diskriminasi sosial dalam pemberian ganti rugi. Bahkan, mereka mengaku kecewa karena tidak masuk dalam definisi korban luapan lumpur.

"Harga tanah dan bangunan kami dihargai sangat rendah, ini jelas diskriminasi," kata Humas GPKLL, Hendrik saat ditemui di lokasi unjukrasa.

Ia menjelaskan bahwa sebagai perbandingan, harga tanah milik warga korban lumpur diharagai sebesar Rp1 juta/m2, sementara bangunan dihargai Rp1,5 juta/m2. "Tapi harga tanah kami dihargai paling tinggi Rp350.000/m2, sedang bangunan dihargai Rp700.000/m2," kata Hendrik.

Karena itulah, mereka menutup akses masuk ke Desa Ketapang dan menghentikan proses pembangunan tanggul yang memanfaatkan lahan PT Osaka, perusahaan yang tergabung dalam GPKLL.

Tambah Pembuangan

Sementara itu, Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS), kini sudah mulai menyiapkan kembali metode pembuangan ke laut melalui Kali Porong.

Dari jumlah outlet pipa pembuangan lumpur yang ada akan dilakukan penambahan dua pipa, sehingga totalnya ada empat outlet pipa. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi musim hujan tiba.

Humas BPLS Achmad Zulkarnain mengatakan, outlet pipa pembuangan baru itu disiapkan agar pembuangan lumpur yang dapat menyebabkan sedimentasi di Kali Porong itu tidak menumpuk jadi satu di area lokasi outlet lama (area spillway) di Desa Pejarakan, Jabon.

"Untuk itu, kami kini menyiapkan outlet pembuangan lumpur di sebelah Timur Jembatan tol Besuki," katanya.

Selain menyiapkan outlet pipa pembuangan lumpur di Kali Porong, usai melakukan normalisasi, BPLS juga akan melakukan uji coba pembungan lumpur kembali ke Kali Porong yang sudah sekitar 10 hari lebih dihentikan.

Ia mengatakan, bila sebelumnya aliran air di Kali Porong hanya sekitar lima hingga 10 meter saja --saat masih ada endapan lumpur--, namun kini setelah dilakukan pengerukan aliran air sudah mencapai sekitar 70 meter, dari lebar Kali Porong sekitar 100 meter.

"Melihat kondisi terakhir ini, kami mulai melakukan ujicoba untuk mengalirkan lagi lumpur ke Kali Porong," katanya sambil mengaku kondisi kali Porong saat ini sudah beranjak normal.

Ia menambahkan, elevasi tertinggi air Kali Porong sebelum ada aksi unjuk rasa besar-besar, beberapa waktu lalu mencapai 516 cm, namun saat ini elevasi Kali Porong sudah turun 309 cm. (kpl/rit)