< >

Penyaluran Kredit Perbankan Pada UMKM Terus Menurun

Kamis, 15 November 2007 21:45
Kapanlagi.com - Perhatian perbankan terhadap usaha mikro kecil menengah (UMKM) belum sesuai dengan rencana bisnis Bank Indonesia (BI), ditandai dengan realisasi kredit ke sektor ini yang terus menurun.

Kredit ke UMKM dalam tiga tahun terakhir mengalami penurunan sangat berarti, dari 143,5% pada 2005 menjadi 85,2% pada 2006 dan akhir semester I 2007 malah hanya 39%, kata Direktur Deputi Unit Khusus Manajemen Informasi BI, I Made Subaga Wirya dalam Sosialisasi Data dan Informasi Bisnis Indonesia (DIBI), Kamis di Manado.

Kondisi ini masih diperparah dengan pemberian kredit yang dialokasikan ke sektor ekonomi tidak tersebar merata, dengan sektor perdagangan berada di peringkat pertama dengan alokasi 26,5% diikuti sektor perindustrian 7,6%.

"Pertanian yang seharusnya menjadi penyangga perekonomian dan menyerap banyak tenaga kerja, hanya mendapatkan alokasi kredit 3,2%," kata I Made Subaga.

Padahal di sisi lain, UMKM memperlihatkan kualitas baik, terlihat dari relatif rendahnya kredit bermasalah (nonperforming loan-NPL) akhir semester 2007 untuk kredit UMKM hanya 4,62%, sedangkan NPL (gross) secara keseluruhan mencapai 5,86%.

Indikator tersebut memberi sinyal kuat bahwa UMKM masih perlu mendapat perhatian dan penanganan serius dan komprehensif, bukan hanya dari sisi akses terhadap pembiayaan melainkan juga aspek permasalahan dihadapi UMKM.

"Peranan UMKM sangat penting, karena sebagus apa pun prestasi yang dicapai di sisi moneter, hasil akhirnya tidak cukup maksimal bila tidak ditransformasikan ke sektor riil dan UMKM," kata I Made.

Karena itulah, BI menyatakan komitmennya mendukung pengembangan UMKM di Indonesia baik dari sisi supply maupun demand.

"Dari sisi supply melalui berbagai ketentuan yang memberikan peluang atau kelonggaran agar perbankan terdorong menyalurkan kredit ke UMKM, sedangkan dari sisi demand melalui penyampaian hasil penelitian serta penyampaian informasi tepat dan akurat mengenai bisnis dan perekonomian," kata I Made.

Salah satu jawabannya yaitu penyediaan informasi yakni melalui DIBI yang merupakan upaya untuk mengurangi kesenjangan informasi antara perbankan dan sektor riil serta memenuhi kebutuhan informasi kalangan perbankan dan pelaku bisnis di Indonesia.

DIBI yang dapat diakses melalui website BI (www.bi.go.id) secara garis besar menyajikan empat kategori informasi, yakni informasi bisnis praktis, kajian ekonomi regional, statistik perekonomian dan keuangan daerah, dan publikasi informasi nasional (business outlook dan informasi harga), kata Pemimpin BI Manado, Jeffrey Kairupan. (*/lpk)