Indonesia Pasar Potensial Investasi Seluler

Kapanlagi.com - Pasar seluler Indonesia dan tiga negara di kawasan Asia Tenggara, Pilipina, dan Vietnam dinilai merupakan pasar potensial investasi di sektor telekomunikasi dibanding kawasan lain di dunia dalam jangka pendek dan lima tahun mendatang.

Hal itu terungkap pada Mobile Development Index Altimo yang dirilis di Jakarta, Kamis.

Indeks Altimo merupakan hasil kajian perusahaan investasi asal Rusia, Altimo, bekerjasama dengan tiga institusi terkemuka Universitas Cambridge, Sekolah Bisnis London, dan Sekolah Ekonomi Baru Moskow.

"Indeks Altimo ini merupakan yang kedua, berguna sebagai instrumen untuk mengukur daya tarik investasi di sektor seluler," kata Wakil Presiden Altimo, Kirill Babaev.

Dari 77 negara menjadi penilaian, Indonesia menduduki peringkat kedua dengan indeks 1,03 poin, setelah Pilipina dengan indeks 1,04 poin, sedangkan Vietnam di posisi ketiga mencatat indeks 1,00 poin.

Poin penting menjadikan Indonesia sebagai investasi utama bersama dengan Pilipina dan Vietnam karena didukung pertumbuhan ekonomi tinggi, peningkatan penetrasi pengguna telekomunikasi, dan pertumbuhan pengeluaran (belanja) konsumen seluler.

Penilaian mencakup data makro ekonomi, data perusahaan seluler, dan potensi pasar yang ditunjukkan dengan data rata-rata pendapatan perusahaan seluler dari penggunaan pulsa per unit (average revenue per unit (ARPU).

Selain juga variabel dari pertumbuhan penetrasi pelanggan selama empat tahun terakhir, belanja barang modal (capex) perusahaan, dan pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA), dan jumlah penduduk.

Tiga negara dengan indeks terendah berturut-turut yaitu Chile (0,10 poin), Uganda (0,09 poin) dan Irak (0,03 poin).

Dari sisi wilayah, Indeks Altimo menunjukkan bahwa wilayah Asia Selatan dan Timur kecuali India sebagai lokasi investasi paling potensial.

Pasar Afrika dinilai memiliki prospek yang tidak menjanjikan untuk investasi di sektor telekomunikasi seluler, dipicu prospek ekonomi yang buruk, dan instabilitas politik.

Pasar Amerika Latin, tumbuh perlahan-lahan dan stabil, meski pasarnya cenderung sudah "matang", marjin keuntungan masih berada di bawah rata-rata industri.

Sedangkan Amerika Utara, Eropa Barat, dan sebagian besar negara-negara Eropa Timur dan beberapa negara maju di Asia, --Jepang dan Korea Selatan-- memiliki pasar yang sudah jenuh dengan tingkat penetrasi lebih dari 90 persen.

"Pasar di negara-negara ini kemungkinan besar tidak menunjukkan pertumbuhan pesat di masa datang, kecuali kemunculan teknologi dan produk-produk baru," ungkap Indeks Altimo tersebut.

Sementara, wilayah Commonwealth of Independent States (CIS), menjadi kurang menarik bagi investor seiring pergerakan pasar terbesar di kawasan Rusia dan Ukraina yang menuju tingkat kejenuhan.

Namun, pasarnya dinilai akan tetap mempertahankan marjin keuntungan yang cukup baik pada 2008-2009 sesuai dengan pertumbuhan ARPU di wilayah tersebut.

Hasil studi juga memperlihatkan bahwa ARPU seluler cenderung turun sekitar dua persen setiap enam bulan yang diperkirakan berlansgung hingga 2008-2009.

Namun, dinamika ARPU tidak begitu berpengaruh terhadap jumlah margin EBITDA yang rata-rata berkisar 35 persen.

Meski demikian, investasi dalam industri seluler masih sangat menggirkan mengingat penetrasi seluler yang masih sangat rendah di dunia yakni baru 45 persen.

"Ini menunjukkan bahwa potensi market masih akan terus tumbuh setidaknya hingga tahun 2010-2011," ungkap laporan itu.

Khusus di Indonesia, Altimo dalam beberapa bulan terakhir disebut-sebut berminat mengambil alih saham PT Indosat Tbk. (kpl/rit)

©2003-2007 KapanLagi.com