< >

KTT OPEC Komit Perangi Pemanasan Global

Senin, 19 November 2007 14:15
Kapanlagi.com - Para pemimpin OPEC mengakhiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Minggu dengan menjanjikan akan menyediakan pasokan yang dapat diandalkan bagi dunia, namun ketegangan nuklir AS-Iran menciptakan suasana muram bagi pesan keandalan tersebut.

Deklarasi final kelompok eksportir minyak yang baru saja diperluas dengan menerima kembali Ekuador sebagai anggota ke-13 itu mendesakkan perdamaian dunia guna membantu menstabilkan harga serta memasukkan komitmen untuk memerangi pemanasan global.

Namun, kartel itu menutup telinga terhadap tuntutan dari negara-negara konsumen agar menaikkan outputnya, yang akan membantu menaikkan rekor harga minyak mentah yang hampir US$100 per barel minggu ini.

Pengaruh Saudi membuat blok anti AS dalam kelompok tersebut gagal dalam upaya untuk membuat kelompok tersebut lebih politis, namun, Presiden Iran menyatakan kemungkinan negara itu menunda ekspor minyaknya jika AS "mengambil tindakan" terhadap negara itu.

"Kami tidak akan pernah ingin menggunakan minyak sebagai senjata atau mengambil tindakan ilegal apapun... tetapi jika Amerika mengambil tindakan apapun terhadap kami maka kami akan tahu bagaimana menjawabnya," Mahmoud Ahmadinejad mengatakan dalam sebuah konferensi pers.

Kekawatiran bahwa serangan AS terhadap Iran dapat mengarahkan Republik Islam itu menghentikan ekspornya atau memblokir jalur pelayaran tanker minyak di Selat Hormuz telah mendorong harga minyak naik dalam tahun-tahun belakangan.

Ketegangan menyangkut program nuklir Iran yang dipersengketakan, yang Washington klaim dimaksudkan untuk memproduksi senjata nuklir, telah meningkatkan ancaman serangan AS terhadap negara itu.

Amerika Serikat juga sedang mendesakkan babak ketiga sanksi PBB terhadap eksportir kedua terbesar dalam Organisasi Negara Negara Pengekspor Minyak, yang menghasilkan 40% minyak dunia.

Presiden Venezuela Hugo Chavez membuka KTT Riyadh dengan pidato khas berapi-api Sabtu mendesak kartel tersebut untuk menjadi "agen geopolitik," yang menuai kritikan lembut dari tuan rumahnya Saudi, Raja Abdullah.

Raja Abdullah, yang negaranya merupakan eksportir terbesar dan anggota OPEC paling berpengaruh, menekankan sesudah retorika agitator Chavez bahwa minyak "tidak harus menjadi instrumen untuk konflik."

Pernyataan final tersebut tidak menyinggung masalah yang bermuatan politis tentang kejatuhan dolar, yang blok anti AS dan kiri seperti Iran, Venezuela dan Ekuador kehendaki.

"Kami memutuskan untuk melanjutkan penyediaan minyak yang memadahi, tepat waktu, efisien, ekonomis dan dapat diandalkan bagi pasar dunia," seperti dikatakan dalam pernyataan final tersebut.

Namun Ahmadinejad mengatakan kemudian bahwa kelompok tersebut telah sepakat untuk mempelajari gagasan meninggalkan mata uang AS yang jatuh, yang digunakan oleh kebanyakan eksportir minyak sebagai penentu harga dan menjual minyak mentah mereka.

"Pertemuan tersebut memutuskan untuk mengarahkan para menteri keuangan dan perminyakan supaya membicarakan hal ini dan kemudian menghasilkan temuan-temuan mereka," ia mengatakan.

Kejatuhan dolar, yang nilainya telah turun 15% terhadap euro dalam 12 bulan, telah mengurangi penerimaan minyak para eksportir dan mendevaluasi cadangan devisa dolar mereka.

Ketergantungan pada mata uang AS juga memiliki arti politis bagi blok anti AS tersebut.

"Waktunya akan tiba tidak hanya di OPEC, namun juga di Amerika Latin, saat kami akan dibebaskan dari mata uang dolar," Chavez mengatakan Minggu.

Keanggotaan OPEC didominasi oleh negara-negara Teluk pro Barat tetapi menyertakan blok anti AS dan kiri seperti Iran, Venezuela dan Ekuador yang baru saja disahkan.

Kelompok tersebut memiliki sejarah penggunaan ekspor minyaknya sebagai senjata politis -- para anggota menghentikan ekspor pada 1973 terkait perang Arab-Israel -- tetapi akhir-akhir ini Arab Saudi lebih suka menekankan agenda murni ekonomi dan teknis kelompok tersebut.

"Lindungi Planet" merupakan salah satu dari tiga tema pokok pertemuan dua hari ini, sebuah topik mengejutkan bagi produsen bahan bakar fossil, penyebab pemanasan global.

Pernyataan akhir tersebut menekankan "pentingnya teknologi perminyakan yang lebih bersih dan lebih efisien untuk melindungi ... lingkungan."

Anggota negara-negara Teluk OPEC menjanjikan total sekitar 750 juta dolar dana baru untuk mengatasi pemanasan global lewat pendanaan riset untuk teknologi baru, dengan penekanan pada penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS).

CCS telah mendapat dukungan dari Amerika Serikat dan industri perminyakan karena teknologi itu secara potensial menawarkan solusi sebagian bagi masalah perubahan iklim tanpa mengurangi ketergantungan pada minyak atau mengekang konsumsi.

Hal itu didasarkan pada menangkap karbon dioksida dan menguburkannya dalam tanah, namun teknologi tersebut masih dalam tahap pengembangan dan membutuhkan investasi masif untuk membuatnya laik secara komersial.

Tentang masalah harga minyak akhir-akhir ini, Chavez dan Raja Abdullah sepakat bahwa harga lebih rendah daripada tingkat sebelumnya pada 1970-an dan 80-an walaupun peringatan para analis bahwa harga minyak 100 dolar dapat memicu resesi ekonomi.

Para menteri perminyakan OPEC akan bertemu di Abu Dhabi pada 5 Desember untuk memutuskan tentang kebijakan output kartel tersebut, terkait seruan dari negara-negara konsumen yang kemungkinan akan terus berlanjut soal kenaikan output. (kpl/rit)