Presdir ITM Somyot Ruchirawat usai public expose di Jakarta, Selasa mengatakan, penawaran 20% tersebut mencapai jumlah 225.985.000 saham dengan nilai nomimal Rp500 per saham.
"Sebanyak 70% hasil IPO digunakan untuk pengembangan usaha batubara dan pembangkit listrik, serta 30% buat kebutuhan umum perseroan termasuk pelunasan utang," katanya.
Penjamin emisi IPO adalah UBS Securities Indonesia.
Direktur Investasi Bank UBS Agung Prabowo mengatakan, harga penawaran ke publik antara Rp11.000-Rp15.000 per saham.
Setelah "public expose" dan "book building" dari tanggal 20-30 November 2007, jadwal IPO adalah penawaran ke publik 10-12 Desember 2007.
ITM yang beroperasi di Kaltim dan Kalteng adalah produsen batubara terbesar ke-3 di Indonesia dengan produksi 19,6 juta ton tahun 2006 dan cadangan 1,5 miliar ton serta sumber daya 235 juta ton.
Pasar batubara ITM adalah Jepang 28,3%, Asia Tenggara, India, dan Pakistan 21,6%, dan Eropa, Taiwan, China, dan Korea 50,1%.
Laba bersih tahun 2006 adalah US$24,9 juta dan periode semester pertama 2007 adalah US$22,7 juta.
Perusahaan dimiliki PT Centralink Wisesa sebanyak 99,99% saham dan PT Sigma Buana Cermelang (SBC) memiliki 0,01% saham.
Perusahaan asal Thailand, Banpu Public Company Limited melalui anak perusahaannya memiliki 95% saham di Centralink dan lima% di SBC.
Setelah IPO dengan kepemilikan publik di perseroan sebesar 20%, maka kepemilikan Centralink menjadi 77,6% dan SBC menjadi 2,4% secara langsung dan 3,88% melalui Centralink.
ITM memiliki mayoritas saham di lima perusahaan tambang Indonesia yakni PT Trubaindo Coal Mining, PT Indominco Mandiri, PT Kitadin, PT Jorong Barutama Greston dan PT Bharinto Ekatama. (kpl/rit)