Kepala PVMBG, Dr Surono di Bandung, Selasa, mengungkapkan, letupan pada Gunung Anak Krakatau merupakan "kegiatan" rutin antara dua hingga empat tahun sekali.
"Bahaya tsunami yang disebabkan gempa vulkanik dari gunung itu, sama sekali tidak akan timbul, karena tidak terdapat penumpukan vulkanik yang besar," kata Surono menandaskan.
Berdasarkan penelitian pihaknya, kecilnya penumpukan itu telah menekan kuantitas letusan, sehingga kecil kemungkinan aktivitas tersebut menyebabkan tsunami.
Gunung Anak Krakatau terakhir meletus pada 23 Oktober 2007, dan berjenis letusan Vulkanian-Strombolian.
Berdasarkan data pihak PVMBG, kondisi terakhir gunung tersebut letusannya apinya sedang mengalami peningkatan, sementara getaran di dalam gunung tersebut sedikit mengalami peningkatan.
Menurut Surono, sejauh ini kondisi Anak Krakatau tidak terlampau membahayakan bagi penduduk setempat, sehingga penduduk dapat melakukan aktivitasnya dengan normal pada jarak dua kilometer dari gunung dimaksud.
"Aktivitas Siaga pada Gunung Anak Krakatau, sebetulnya memiliki fenomena alam yang khas, dan fenomena tersebut akan lebih indah ketika dinikmati pada malam hari," katanya menambahkan.
Fenomena tersebut dapat dinikmati para wisatawan untuk berkunjung ke daerah tersebut, dengan syarat jarak pandangan tidak kurang dua kilometer, demikian Kepala PVMBG. (*/boo)