"KJRI Sydney akan sangat kehilangan Deva jika perjuangannya tidak berhasil, karena ia sangat aktif dalam ikut memperkenalkan budaya Indonesia kepada anak-anak muda di New South Wales (NSW) dan sangat mendukung program KJRI," kata Konsul bidang kekonsuleran KJRI Sydney, Edi Wardoyo, Selasa (20/11).
Kepada ANTARA yang menghubunginya dari Brisbane, Edi mengatakan, perjuangan drummer kelahiran Jakarta tahun 1973 itu untuk mendapatkan visa menetap merupakan masalah pribadinya dengan kantor imigrasi Australia, namun KJRI Sydney memberikan bantuan sebisanya seperti memberikan surat yang diperlukan.
"Sejauh ini KJRI banyak membantu Deva seperti memberikan surat dan kegiatan-kegiatan Deva. Tapi masalah visa adalah urusan pribadi dengan Pemerintah Australia. Ini kan masalah keimigrasian. Dalam hal ini bukan berarti kita diam saja. Kita membantu Deva sejauh yang bisa kita lakukan," katanya.
Sementara itu, Kabid Penerangan Konjen RI Sydney, Siti Sofia Sudarma, mengatakan, perjuangan Deva untuk mendapatkan 'bridging visa' melalui pengadilan terus berjalan.
"Setahu saya Deva sudah dapat 'lawyer' (pengacara) yang akan memproses 'ministerial intervension'. Terakhir ketemu pekan lalu, dia optimis bahwa dia akan mendapat 'bridging visa' E atau A," katanya.
Drumer kawakan yang sudah belajar alat musik kendang sejak usia 12 tahun dan pada 1995 mendapat tawaran beasiswa lintas budaya di Institut Musik Australia (AIM) Sydney itu menjadi mitra KJRI Sydney dalam berbagai pertunjukan seni budaya Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, kata Siti Sofia Sudarma.
Perihal perjuangan Deva untuk tetap bisa menetap di Australia melalui jalur pengadilan itu menyedot perhatian banyak warga Indonesia dan Australia melalui petisi untuk mendukung keberadaan musisi yang masuk ke Australia melalui jalur 'distinguished talent' itu.
Informasi yang dihimpun ANTARA dari situs http://www.ipetitions.com/petition/deva_permana/signatures.html, setidaknya sudah ada 376 orang Indonesia dan Australia yang memberikan dukungannya pada Deva.
Danif Pradana, salah seorang pemberi petisi, misalnya, mengatakan, sudah sepantasnya Deva tetap bisa tinggal di Australia supaya dia tetap bisa membantu memperkuat hubungan bilateral Indonesia dan Australia melalui musik.
Sepandangan dengan Danif, Patrick Wong mengatakan, musisi yang bergabung dengan dan membentuk kelompok-kelompok musik jazz dan pop di Australia itu merupakan rekan baiknya dalam dunia musik dan telah memberikan lebih banyak bagi Australia daripada banyak warga Australia sendiri.
"Tidak mengizinkan dia (Deva) tetap tinggal di Australia adalah sebuah penghinaan baginya setelah dia memberikan banyak kontribusi bagi dunia seni di sini (Australia)," kata Wong.
Tracy Kinchington dari Tirta Sinar (Gamelan Bali) Sydney menulis dalam petisi tersebut bahwa dia tidak ingin kehilangan musisi-musisi produktif yang justru ikut memperluas pengetahuan musik dan budaya Australia.
"Universitas-universitas kita memerlukan orang-orang seperti ini dan pengetahuan mereka. Jadi tolong bantulah orang ini (Deva Permana, red) untuk tetap bisa tinggal di negara kita dan membantu dia untuk tetap bisa memberikan kontribusi pada musik," katanya.
Kinchinton mengatakan, setelah membaca pandangan ratusan orang yang mengisi petisi buat Deva ini, menjadi sangat jelas bagi dirinya bahwa musisi Indonesia ini telah memberikan kontribusi yang besar terhadap upaya perluasan pemahaman orang-orang tentang ide musik Indonesia dan keberagaman musik etnis.
"Karenanya, tolong berikan kepada orang ini (Deva) kesempatan dan biarkan dia tetap bisa tinggal di Australia," katanya.
Sepanjang karir musiknya, Deva antara lain pernah bermain dengan artis-artis jazz legendaris dunia, seperti Alex Acuna, Airto Moreira, Abraham Laboriel Sr, Oscar Castro Neves, Don Grusin, Gary Meeks, dan penyanyi Brazil Katia Moraes di 'JAZZ at The Domain' awal 2007.
Dalam beberapa konser dan turnya, Deva pun pernah bermain bersama banyak musisi Australia, termasuk Australian Idol Cosima De Vito, Courtney Act, dan Jessica Mauboy. (*/bun)




