Tiga dari mereka yang dipenjarakan -- selama antara tiga dan sepuluh tahun -- terbukti bersalah karena berupaya memberikan informasi yang mengancam keamanan nasional pada organisasi luar negeri yang tak disebutkan namanya, lapor kantor berita resmi Xinhua.
Orang lainnya, Ronggyal Adrak, seorang nomaden berusia 52 tahun, dihukum delapan tahun penjara, kata Xinhua, menyusul insiden yang menarik perhatian Agustus, yang mana ia minta kepulangan pemimpin Tibet di pengasingan Dalai lama.
Insiden itu, dan penahanan Adrak sesudahnya, telah menimbulkan demonstrasi oleh ratusan etnik Tibet di China barat daya, menurut Human Rights Watch yang bermarkas di New York, sebagai pertanda sentimen anti-China yang membara di wilayah Tibet.
Semua empat orang itu dihukum Selasa di sebuah pengadilan di Garze, prefektur otonomi untuk etnik Tibet di provinsi Sichuan yang berbatasan dengan Tibet.
Adrak dituduh melakukan subversi karena melompat ke atas panggung Agustus pada festival kuda di Garze dan menyuarakan dukungan pada Dalai Lama.
China memerintah Tibet sejak 1951, setelah mengirim tentara satu tahun sebelumnya untuk "membebaskan" wilayah penganut Budha yang taat itu.
Dalai Lama meninggalkan Tibet pada 1959 dan dianggap oleh China sebagai seorang tokoh yang berbahaya yang mengusahakan kemerdekaan bagi tanah airnya, meskipun ia mengatakan ia hanya menginginkan otonomi dan agar penindasan China terhadap warga Tibet berakhir.
Tanpa memberikan rincian khusus, Xinhua mengatakan tindakan Adrak, "telah menyebabkan masyarakat mengepung kantor pemerintah".
Lubo dan Jacmyang Goingen dijatuhi hukuman 10 dan sembilan tahun penjara, berturut-turut, karena mengirim foto ke organisasi luar negeri, menurut Xinhua.
"Beberapa dari muatan itu telah membocorkan data intelijen yang membahayakan keamanan nasional," kata keputusan pengadilan menengah Garze seperti dikutip Xinhua.
Anggota lainnya dari trio itu, yang dikenali hanya sebagai Lutog, dipenjarakan selama tiga tahun karena memberikan informasi pada organisasi asing.
Xinhua tidak memberikan rincian mengenai usia atau jenis kelamin ketiga orang itu atau informasi yang diberikan pada organisasi asing.
Namun peneliti Human Rights Watch China Nicholas Bequelin mengatakan informasi yang dibicarakan itu adalah foto demonstrasi menyusul festival kuda, yang ia katakan dibatalkan dengan cepat oleh pemerintah China.
"Signifikasi dari kasus itu adalah mereka menyoroti risiko bagi warga Tibet jika mereka berusaha untuk melaporkan mengenai insiden penindasan," kata Beqeulin yang berkantor di Hong Kong.
"Ini meniti jalan panjang untuk menjelaskan mengapa kami hanya memiliki sangat sedikit informasi mengenai perselisihan etnik di Tibet, meskipun kami sangat menyadari ada ketidakpuasan yang meluas."
Kementerian luar negeri China dan pengadilan Garze menolak untuk mengomentari mengenai kasus itu Selasa. (*/cax)