Petugas pengamatan di Pos Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Rabu, menyebutkan hingga saat ini aktivitas Anak Krakatau masih terus mengeluarkan letusan dan terjadi kegempaan vulkanik.
Sekitar pukul 00.00 hingga 12.00 WIB, terjadi sebanyak 124 kali letusan, kegempaan vulkanik A (dalam) 3 kali, vulkanik B (dangkal) 28 kali, tremor 64 kali, dan gempa hembusan sebanyak 40 kali.
Sejauh ini frekuensi letusan dan kegempaan Anak Krakatau masih fluktuatif.Akan tetapi,gempa vulkanik dalam dan dangkal relatif kecil dengan kemunculan interval 10-15 menit.
"Kondisi itu tetap status Anak Krakatau masih siaga dan masyarakat tetap tidak diperbolehkan untuk mendekati kawasan tersebut," kata Evrita Lusia Tim Peringatan Dini dari Pusat Vulkanologi dan Migitasi Bencana Geologi (PVMBG), di Pos Pemantauan GAK di Pantai Carita.
Berdasarkan pemantauan Pusat Vulkanologi dan Migitasi Bencana Geologi (PVMBG), hingga saat ini Anak Krakatau letusan dan kegempaan terus berlanjut tetap juga masih fluktuatif, namun gempa vulkanik dalam dan dangkal mengalami penurunan.
Oleh karena itu, mudah-mudahan dalam waktu dekat ini, frekuensi letusan dan kegempaan Anak Krakatau bisa diturunkan menjadi status waspada. Sebab, PVG memberlakukan empat tingkatan status gunung. Aktif normal (level I), waspada (level II), siaga (level III), dan awas (level IV). Status Gunung Anak Krakatau ini sama dengan tiga gunung lain, yakni Gunung Kelud, Karang Etang, dan Soputan. Periode letusan Gunung Anak Krakatau secara periodik terjadi dengan periode dua hingga empat tahun.
"Saya kira akumulasi energi Anak Krakatau menurun dan kecil kemungkinan akan terjadi letusan besar dan tidak menimbulkan gelombang tsunami," ujarnya.
Saat ini,kata Evrita, ada sembilan gunung di Indonesia yang statusnya waspada. Gunung- gunung itu yakni Kerinci, Gamkonora, Talang, Semeru, Lokon, Dukono, Papandayan, Ibu, dan Bromo. Bahkan saat ini Gunung Merapi statusnya sudah menjadi aktif normal. (*/boo)