"Asumsi membaiknya harga ekspor kopi itu mengacu pada perkiraan produksi kopi di Brazil dan termasuk Indonesia yang tidak mengalami lonjakan besar di tengah terus meningkatnya permintaan di pasar dunia pada tahun kopi 2008," kata eksportir kopi Sumut, Suyanto Husein, di Medan, Kamis (22/11).
Produksi kopi di Brazil, negara penghasil terbesar kopi dunia misalnya pada tahun 2008 (Mei 2007-April 2008) diperkirakan paling banyak 50 juta karung atau 3 juta ton,
Produksi kopi Brazil itu, mengalami kenaikan yang tidak terlalu besar dibandingkan periode tahun 2007 yang sekitar 49 juta karung.
Peningkatan produksi yang minim itu terjadi akibat faktor cuaca.
Produksi yang tidak meningkat besar itu juga dialami Indonesia. Tahun 2008 (Oktober 2007 hingga September 2008), produksi kopi nasional juga tidak jauh dari angka 450 ribuan ton yang juga diakibatkan gangguan cuaca.
"Di tengah produksi yang tidak mengalami lonjakan berarti, justru konsumsi kopi dunia semakin meningkat sehingga permintaan naik terus dan mendorong menguatnya harga jual," kata Suyanto yang Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Sumut itu.
Harga ekspor kopi pada sepanjang 2007, rata-rata US$3,2 hingga US$3,5 per kilogram, sementara tahun 2006 harga jual masih US$2,8 per kilogram.
"Harga ekspor diperkirakan terus membaik atau minimal bertahan baik seperti tahun ini," katanya.
Eksportir kopi Sumut dan Aceh, T.M Razali, juga memperkirakan kenaikan harga jual di pasar internasional.
Tapi, katanya kenaikan harga ekspor tidak selamanya menguntungkan pengusaha dengan dalih harga ekspor yang naik itu sering mendorong kenaikan harga jual di dalam negeri yang lebih tinggi pula.
Dia memberi contoh, dalam beberapa bulan terakhir, harga ekspor kopi di bawah harga beli di dalam negeri akibat terjadinya lonjakan permintaan eksportir untuk kebutuhan menutupi kontraknya.
Harga ekspor kopi arabika di Pelabuhan Belawan, misalnya, kata Pesdir PT. Gergas Utama itu berkisar 3,10 sen dolar AS per kilogram atau sekitar Rp28 ribuan per kilogram, sementara harga produksi kopi itu hingga siap ekspor sudah mencapai Rp30 ribuan per kilogram.
Permintaan yang banyak membuat harga arabika itu bertahan mahal meski produksi mulai banyak dengan masuknya musim panen di beberapa sentra produksi seperti di Sumut sejak Oktober lalu dan disusul di Aceh pada November ini, kata Razali yang mantan Ketua AEKI Aceh itu.
Akibat harga ekspor yang lebih tinggi itu, maka eksportir tidak melakukan transaksi kecuali untuk memenuhi kontrak.
"Ada kalanya pula, eksportir tidak bisa mengekspor karena importir melakukan aksi penahanan pembelian sementara untuk menekan harga ekspor seperti yang terjadi Juni lalu," katanya. (*/lpk)