Medali perak diraih Khumaruddin dari SMK Negeri Purworejo Jawa Tengah dan Medalion for Excellence diraih Eko Irawanto dari SMK I Jenagan Ponorogo Jatim, Asbai dari SMK Negeri I Magelang, Budi Bowo Leksono.
"'World Skills Competition 2007' selama sepekan di Jepang dan diikuti sekitar seribu pelajar dari 48 negara Eropa, Amerika dan Asia. Dalam keikutsertaan yang kedua kali pada ajang ini delegasi Indonesia naik peringkat dari posisi 36 menjadi 22 yang merupakan prestasi tersendiri," kata Direktur Pembinaan SMK Dirjen Manajemen Dikdasmen Depdiknas, Joko Sutrisno saat menerima delegasi Indonesia untuk ajang 'World Skills 2007' di Jakarta, Jumat.
Ia mengakui, tim Indonesia belum meraih kemenangan terbaik karena persiapan yang dirasakan kurang misalnya dalam penguasaan mesin dan peralatan yang akan digunakan untuk perlombaan.
"Sejumlah pelajaran yang menjadi delegasi juga mengeluhkan waktu berlatih yang kurang serta kesempatan dengan menggunakan peralatan yang sesuai dengan standar kompetisi," katanya.
Perolehan itu menaikkan peringkat Indonesia di ajang 'World Skill Competition' yang sebelumnya peringkat 36 dari 40 negara peserta World Skill Competition di Finlandia tahun 2005, di Jepang menduduki 22 dari 48 negara. Peserta lomba kompetisi tingkat internasional di Jepang mengikuti 16 mata lomba dari 48 mata lomba yang dikompetisikan.
"Kita akan terus meningkatkan prestasi di Calgary, Canada pada 2009 nanti. Kita akan kirimkan peserta dua kali lipat dengan mata lomba yang lebih banyak lagi. Sekarang baru mengikuti 16 mata lomba nanti di Canada 32 mata lomba dari 48 cabang mata lomba. Dan sekarang sudah mulai persiapan," ujar Joko Sutrisno.
Ia mengakui berdasarkan pengalaman tahun ini adanya peserta lomba yang mengeluhkan ketinggalan Indonesia dalam peralatan maka untuk ajang berikutnya disesuaikan dengan perkembangan teknologi.
"Tim kita sempat terkena teror peralatan. Begitu negara lain mengeluarkan kecanggihan peralatannya peserta kita sedikit terguncang karenanya. Peralatan sangat minimal sekali," katanya.
Mengenai peralatan ini Depdiknas akan meminta tim ahli untuk memberikan rekomendasinya. "Alat akan kita perbaiki dan akan kita bench mark dengan alat dari negara- negara maju. Jadi alat kita harus sudah sama dari negara-negara maju seperti Jerman dan sebagainya," katanya.
Ke depan, katanya, peralatan ini akan segera diperbaiki. Demikian halnya mengenai pelatihan untuk pemantapan menjelang perlombaan. "Jam latih kita kemarin relatif lebih pendek dibanding negara lain. Paling tidak satu tahun ke depan akan kita siapkan," tambahnya.
Para peserta lomba didampingi oleh tim ahli dari perusahaan swasta seperti dari Semarang, Bogor. "Indonesia mendapat tawaran dari perusahaan-perusahaan untuk ke Calgary, dari Matsusita, Epsson, Mitsubishi, Toyota untuk memandu penempatan calon kompetitor Indonesia untuk Calgary," ujarnya.
Ke-17 peserta berasal dari berbagai daerah yang sebelumnya pemenang di LKS dua tahun lalu. Ke-17 peserta ajang kompetisi dunia ini akan diberi beasiswa melanjutkan ke pendidikan tinggi sesuai dengan bidang yang diminati hingga tamat. Beasiswa ini diberikan dari Depdiknas yang disalurkan melalui Biro Kerjasama Luar Negeri. (*/boo)