< >

Deva Permana, Musisi Penjembatan Budaya Indonesia-Australia

Sabtu, 24 November 2007 08:14
Kapanlagi.com - Musisi Indonesia dengan reputasi internasional, Deva Permana, mengatakan, komitmennya pada penguatan jembatan budaya antara Indonesia dan Australia melalui musik yang telah dirintis dan secara konsisten dikembangkannya sejak sekitar 1996 tidak akan pernah berubah.

Komitmen itu dikemukakan dari Brisbane, Jumat (23/11), berkaitan dengan ikhwal perjuangan panjangnya mendapatkan visa distinguished talent (visa yang diberikan kepada warga negara asing berbakat dengan prestasi dan reputasi tinggi) dari Pemerintah Australia, serta petisi dukungan ratusan warga Australia dan Indonesia atas perjuangannya itu.

Drummer kawakan kelahiran Jakarta tahun 1973 yang telah lebih dari sepuluh tahun menetap di Sydney itu mengatakan, komitmennya pada penguatan hubungan kedua negara melalui pembangunan jembatan budaya tersebut sudah terpatri dalam dirinya sejak ia menginjakkan kaki di Sydney tahun 1995.

"Karena itu, saya tidak rela kalau perjuangan saya selama sekitar sebelas tahun membangun jembatan budaya sampai ambruk," katanya.

Deva Permana mengatakan, ketidakrelaannya kehilangan kesempatan untuk memperkuat jembatan budaya yang telah dibangunnya sejak 1996 itu mendorongnya untuk mengajukan permohonan intervensi menteri imigrasi Australia sebagai jalan terakhirnya mendapatkan visa menetap di negara itu.

"Ministerial intervention (intervensi menteri) itu merupakan kesempatan terakhirnya untuk mendapatkan visa distinguished talent setelah pihak imigrasi memberikan batas waktu 28 hari kepadanya untuk menyelesaikan masalah visa," katanya.

Musisi yang menekuni pendidikan musik di departemen jazz Institut Musik Australia (AIM) Sydney (1995-1997) itu lebih lanjut mengatakan, ia tidak merasa sendiri dalam perjuangannya mendapatkan visa tersebut karena ratusan orang warga Australia dan Indonesia memberikan dukungan moril dan empati.

Manajemen Opera House termasuk di antara lembaga seni Australia yang mendukung perjuangannya dengan memberikan surat yang diperlukannya. Bahkan, seorang pengacara dan seorang anggota parlemen di negara bagian New South Wales (NSW) membantunya melengkapi dokumen-dokumen yang diperlukan untuk proses ministerial intervention tersebut.

"Ministerial intervention ini adalah the last chance (kesempatan terakhir saya) untuk mendapatkan distinguished talent visa," katanya.

Mengenai kiprahnya dalam membangun jembatan budaya Indonesia-Australia melalui musik, musisi yang sudah belajar alat musik kendang sejak usia 12 tahun itu mengatakan, ia telah memberikan pelajaran musik Jawa dan Bali di ribuan sekolah yang ada di hampir seluruh wilayah Australia selama enam tahun terakhir.

"Melalui perusahaan Australia yang bekerja di bidang pendidikan musik bernama Musica Viva in Schools Program, saya bekerja sama membangun jembatan budaya Indonesia-Australia dengan perusahaan ini selama enam tahun terakhir."

"Mereka mengirim saya ke sekolah-sekolah di kota dan pedesaan Australia untuk mengajar murid-murid tentang musik dan budaya Indonesia. Ini sudah berjalan enam tahun dan ini adalah program yang harus dipertahankan karena selama 22 tahun program pendidikan musik di Australia, program Indonesia yang saya kerjakan bersama mereka adalah yang pertama dari Asia," kata Deva.

Melalui grup trio Makukuhan (bahasa Jawa kuno yang bermakna dewa-dewa padi), Deva dan mitra Indonesianya yang lain, mengajarkan gamelan atau musik Jawa dan Bali serta budaya-budaya Nusantara lainnya kepada para murid dari ribuan sekolah selama enam tahun terakhir.

Obsesi dirinya sejak awal adalah bagaimana membangun basis budaya Indonesia di Australia karena Indonesia sama sekali tidak memiliki basis budaya di negara multikultural ini.

Kiprahnya yang lain dalam memajukan seni musik Indonesia sekaligus membangun jembatan budaya Indonesia-Australia adalah upayanya menggabungkan unsur musik tradisional Indonesia dengan barat tahun 1996 di negara itu dengan membentuk grup band.

"Pada 1996 konsep ini baru dikembangkan oleh grup band Krakatau di Indonesia. Tapi pada tahun itu, proyek saya itu bisa jadi embrio cultural base Indonesia di mana pada saat itu ibaratnya kita mencari jarum di tumpukan jerami."

"Tapi saya lucky (beruntung) saja mendapatkan beberapa pemain musik tradisional asal Indonesia di Sydney, seperti Komang Wirawan. Sejak itu, dia adalah satu-satunya musisi tradisional Indonesia yang sudah pintar mencampurkan dua unsur baik secara musikal maupun ideologis."

"Nama kita berdua bahkan masuk dalam buku sejarah musik Australia terbitan DFAT (Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia-red.) tahun 1997. Saya dan Komang bikin proyek yang diberi nama Garis," katanya.

Sepanjang karir musiknya, Deva Permana antara lain pernah bermain dengan artis-artis jazz legendaris dunia seperti Alex Acuna, Airto Moreira, Abraham Laboriel Sr., Oscar Castro Neves, Don Grusin, Gary Meeks, dan penyanyi Brazil Katia Moraes di 'JAZZ at The Domain' awal 2007. Dalam beberapa konser dan turnya, Deva pun pernah bermain bersama banyak musisi Australia, termasuk Australian Idol Cosima De Vito, Courtney Act, dan Jessica Mauboy(*/boo)