Dalam usianya yang tergolong muda itu, Ozaki berhasil menggusur sang reformis, Daijiro Hashimoto yang telah berkuasa selama 16 tahun lamanya di propinsi tersebut, demikian The Japan Times di Tokyo, Senin.
Ozaki juga menggeser posisi gubernur termuda sebelumnya yang dipegang oleh Takuya Tasso, Gubernur Iwate, yang berusia tiga tahun lebih tua dari Ozaki.
Kemenangan Ozaki tidak terlepas dari dukungan parpol-parpol yang ada baik dari partai politik yang berkuasa seperti Partai Liberal Democratic Party (LDP) dan Partai New Komeito, maupun dari kubu oposisi yaitu Partai Democratic Party of Japan (DPJ) serta Partai Sosial Demokrat Jepang.
"Banyak orang yang berharap perlunya sesuatu yang berarti bagi wilayah Kochi ini," kata Ozaki dalam pidato kemenangannya hari Minggu (25/11) lalu.
Ia mengatakan, dirinya akan bekerja sama dengan rakyat dan berada di posisi terdepan untuk memulai pembangunan bagi Kochi.
Ozaki dengan telak mengalahkan tiga pesaing lainnya, yakni Masahisa Chikamori (54), pimpinan dari suatu organisasi pendidikan, Yoshi Sekiya (46) karyawan dari perusahaan penerbitan surat kabar, dan Masaru Kunimatsu (68), direktur utama perusahaan swasta yang didukung Partai Komunis Jepang.
Uniknya, semua kandidat itu justru maju sebagai calon independen.
Mantan gubernur Hashimoto sendiri selama ini telah berupaya keras melakukan pembaharuan terhadap praktik birokrasi yang ada di Kochi.
Di Jepang sendiri terdapat 47 perfektur (setara propinsi) dengan jumlah populasi penduduk sebanyak 127 juta jiwa. (*/cax)