"Kalau lihat kondisi sekarang, pasti (harga komponen) naik. Kami sudah tidak tahan," kata Direktur PT Astra Otoparts Tbk (AOP) Gustav Husein di Jakarta, Senin (26/11).
Ia mengatakan, akibat kenaikan harga minyak mentah dunia dan kenaikan harga BBM industri, harga bahan baku naik rata-rata sekitar 20-40%, seperti aluminium, besi, dan timah.
Selain itu, biaya upah pekerja juga meningkat akibat inflasi dan pergerakan nilai tukar rupiah.
Di sisi lain, kata dia, ada tuntutan yang kuat dari Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) otomotif untuk menghasilkan produk yang murah.
Oleh karena itu, lanjut dia, kalangan industri komponen terus melakukan efisiensi dengan menekan kesia-siaan proses produksi. "Kami berupaya agar tidak ada material yang tersisa. Kalaupun ada, didaur ulang kembali," ujarnya.
Gustav mengatakan pihaknya berupaya agar kenaikan harga komponen tidak terlalu besar.
"Kami berupaya kenaikan harga komponen di bawah lima persen dengan meningkatkan efisiensi dan memanfaatkan volume permintaan yang meningkat," ujarnya.
Apalagi, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) memproyeksikan pada 2008 pasar mobil di Indonesia naik menjadi 500 ribu unit dibandingkan tahun ini yang diperkirakan akan menembus angka 425 ribu unit
Sementara itu, Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor (TAM) Joko Trisanyoto kenaikan harga komponen tidak serta merta akan menaikkan harga mobil di dalam negeri, walaupun biaya produksi akan meningkat.
"Harga jual kendaraan bermotor sangat ditentukan kekuatan pasar dan daya beli masyarakat, bukan semata-mata kenaikan ongkos produksi," katanya.
Selain itu, lanjut dia, persaingan juga menentukan penetapan harga dari ATPM. ATPM khawatir kalau harga terlalu tinggi tidak akan laku di pasar dan kalah dengan pesaing. "Jadi kami pun sulit menaikkan harga," katanya. (*/lpk)