< >

613 Kasus Malaria di NTB Telan 17 Korban Jiwa

Selasa, 27 November 2007 20:12
Kapanlagi.com - Kasus penyakit malaria hingga Oktober 2007 menelan sedikitnya 17 korban meninggal dunia dari 613 kasus selama sepuluh bulan dan penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk itu masuk kategori Kejadian Luar Biasa (KLB) yang menonjol di daerah itu.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) NTB, dr. Hj. Baiq Magdalena di Mataram, Selasa mengatakan, penyakit menular lain yang menonjol dan dapat menyebabkan KLB yang dilaporkan kabupaten/kota sejak Januari - Oktober 2007 adalah demam berdarah.

"Kasus demam berdarah (DB) hingga Oktober 2007 tercatat 644 kasus dua korban di antaranya meninggal dunia, kasus DB masuk KLB yang cukup menonjol," katanya pada pertemuan kelompok potensial bagi wartawan dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional.

Pada acara yang terselenggara atas kerjasama Dinkes NTB dan kelompok Wartawan Peduli Kesehatan (Wali sehat) PWI Cabang NTB, dikatakan, selain itu kasus penyakit menular lain yang cukup menonjol adalah HIV/AIDS.

Menurut Magdalena, berdasarkan laporan jumlahnya semakin meningkat, jumlah pengidap penyakit HIV hingga Oktober 2007 tercatat 107 kasus sedangkan AIDS sebanyak 55 kasus.

Penderita penyakit menurunnya kekebalan tubuh itu terbanyak dari kalangan swasta dan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri.

Sementara untuk kasus gizi buruk berdasarkan pemantauan status gizi oleh Dinkes NTB ada penurunan prosentase gizi buruk dan gizi kurang.

Penyakit gizi bermasalah itu disebabkan beberapa faktor antara lain kemiskinan, pendidikan dan tidak terlepas dari perilaku hidup bersih dan sehat.

Berbagai upaya yang telah dilaksanakan oleh pemerintah untuk mengatasi permasalahan bidang kesehatan khususnya yang berkaitan dengan penyakit menular antara lain pembentukan tim penanggulangan KLB tingkat propinsi dan dilanjutkan ke tingkat kabupaten/kota.

Selain itu, melakukan pemetaan lokasi rawan KLB penyakit menular yang kemungkinan menimbulkan wabah baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota dan Puskesmas.

Di samping itu melakukan pengobatan saat menemukan kasus di lapangan dan merujuk penderita ke Puskesmas atau rumah sakit terdekat terutama yang tidak dapat ditangani di rumah.

Upaya lain adalah melakukan penyuluhan kepada masyarakat melalui media cetak, elektronik dan media luar gedung dan menjalin kerjasama dengan instansi terkait dalam rangka pencegahan dan penanggulangan KLB. (*/boo)