< >

Bush: Israel-Palestina Upayakan Damai Akhir 2008

Rabu, 28 November 2007 11:56
Kapanlagi.com - Presiden Amerika Serikat George W Bush pada Selasa menyatakan Israel dan Palestina setuju melancarkan pembicaraan dwi pihak secepatnya untuk mencapai kesepakatan perdamaian menyeluruh pada akhir 2008.

"Mencapai cita-cita ini tidak mudah. Jika mudah, sudah terjadi dahulu kala," katanya dengan di dampingi Perdana Menteri Israel Ehud Olmert dan Presiden Palestina Mahmud Abbas.

Dengan memulai perundingan perdamaian Timur Tengah, yang diperjuangkan Amerika Serikat di Annapolis, Maryland, Bush membacakan pernyataan bersama Palestina-Israel, yang menyetujui melakukan pembicaraan atas "semua persoalan inti tanpa kecuali" guna mendorong untuk membuat negeri merdeka Palestina.

"Kami setuju terlibat dalam perundingan giat, terus-menerus dan berkelanjutan serta akan melakukan setiap usaha untuk menyelesaikan kesepakatan sebelum akhir 2008," katanya mengutip pernyataan tersebut.

Bush menyatakan kedua pihak itu setuju melaksanakan janji mereka di bawah "peta jalan" untuk perdamaian, yang mandek dan tercipta pada 2003 oleh "empat sekawan" diplomatik Timur Tengah, yakni Amerika Serikat, Perserikatan Bangsa-Bangsa, Eropa Bersatu, dan Rusia.

"Amerika akan melakukan segalanya dalam kekuasaan kami untuk mendukung pencarian mereka akan perdamaian, tapi kami tidak bisa mencapainya untuk mereka," katanya, "Keberhasilan usaha ini memerlukan semua pihak memperlihatkan kesabaran dan keluwesan serta tanggung jawab."

"Pemimpin Palestina harus menunjukkan bahwa negara mereka akan menciptakan kesempatan bagi seluruh warganya dan memerintah dengan adil serta membongkar prasarana teror," kata Bush, yang membuat dorongan paling kukuh untuk perdamaian sejak berkuasa.

Pemimpin Israel harus "memperlihatkan kepada dunia bahwa mereka siap mulai mewujudkan akhir bagi pendudukan, yang dimulai pada 1967, lewat perundingan penyelesaian," kata presiden negara adidaya itu, yang masa jabatannya berakhir pada Januari 2009.

"Israel harus menunjukkan dukungannya untuk penciptaan negara sejahtera dan berhasil Palestina dengan menyingkirkan pos gelap terdepan, mengakhiri perluasan permukiman, serta mencari cara lain bagi pemerintah Palestina untuk melaksanakan tanggung jawabnya tanpa membahayakan keamanan Israel," katanya.

Bush, yang bertemu terpisah dengan Olmert dan Abbas pada Senin dan dijadwalkan melakukannya lagi pada Rabu, menekankan bahwa tujuan perundingan itu "bukan menyimpulkan persetujuan, tapi melaksanakan perundingan".

"Ini awal perjalanan, bukan akhir dari itu dan, tak diragukan, banyak pekerjaan masih harus dilakukan. Juga, para pihak bisa mendekati pekerjaan itu dengan keyakinan," kata presiden Amerika Serikat tersebut.

"Waktunya tepat, sebab jelas dan, dengan usaha gigih, saya tahu mereka bisa berhasil," katanya.

Perundingan Palestina dengan Israel hari Senin gagal menyepakati dokumen bersama, yang menetapkan garis perundingan masa depan, kata pejabat Palestina setelah pembicaraan di Washington.

"Masih ada yang harus dikerjakan dan berbagai upaya telah dilancarkan, tapi kami belum mencapai kesepakatan," kata Kepala Perunding Palestina Ahmad Qorei setelah pembicaraan di Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dengan Menteri Luar Negeri Israel Tzipi Livni dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Condoleezza Rice.

Qorei menyatakan mereka mengadakan pertemuan "bagus", tapi menegaskan, "Masih ada masalah."

Ribuan warga Israel berhaluan keras memadati kawasan Dinding Barat Yerusalem pada Senin sore untuk berdoa bagi kegagalan perundingan antarbangsa mengenai sengketa Israel-Palestina itu, yang diharapkan banyak kalangan akan meluncurkan lagi perundingan perdamaian kedua pihak tersebut. (*/cax)