Pemberontak menguasai separuh bagian utara negara Afrika barat dan penghasil utama cokelat dunia itu sejak perang saudara 2002-2003 tapi kedua belah pihak telah menyetujui dalam bulan Maret rencana untuk pelucutan senjata dan reunifikasi, dan penyelenggaraan pemilihan pertama yang sedianya pada 2005.
"Penandatangan perjanjian Ouagadougou (sekarang) dengan nyata mempertimbangkan pemilihan akan terjadi pada akhir paruh pertama 2008," kata Djibril Bassole, menlu tetangga utara Pantai Gading, Burkina Faso, yang memerantarai perjanjian Maret.
Presiden Laurent Gbagbo dan pemimpin pemberontak Guillaume Soro, yang menjadi perdana menteri April, bertemu di ibukota Burkina Faso Selasa dengan Presiden Blaise Compaore, seorang penengah dalam proses perdamaian itu, untuk membicarakan kemajuan dan masalah teknis.
Komisi Pemilihan Independen, yang Bassole katakan akan menetapkan tanggal pasti untuk pemilihan itu, mengatakan dua bulan lalu, komisi tersebut bisa membutuhkan hingga Oktober 2008 untuk mengadakan pemilihan yang telah ditangguhkan berulang kali sementara negara itu masih terbagi.
Bassole mengatakan komisi pemilihan akan menetapkan tanggal pasti untuk pemilihan yang bergantung pada kemajuan dalam pekerjaan persiapannya.
Meskipun ada euforia pertama-tama atas perjanjian damai Maret itu, yang menggantikan serangkaian perjanjian damai yang diterapkan-asing yang gagal dan pada awalnya bermaksud untuk mengadakan pemilihan Januari, para diplomat dan negara donor memprihatinkan langkah lambat kemajuan dalam aspek praktis.
Gbagbo akan memulai kunjungan tiga hari untuk menemui penduduk setempat di ujung utara Pantai Gading yang kering Rabu, kunjungan keduanya ke separuh bagian utara negara itu sejak bagian itu direbut oleh pemberontak Pasukan Baru dalam perang. (*/cax)