NATO telah memperketat prosedur bagi dilancarkannya serangan udara setelah Presiden Afghanistan Hamid Karzai memperingatkan mengenai kemarahan yang meningkat sehubungan dengan bertambahnya korban jiwa sipil, tapi para komandan militer menyatakan sebagian korban tewas dari warga sipil nyaris tak terelakkan dalam setiap konflik.
Pasukan asing memiliki waktu terbatas untuk membuat lemah gerilyawan Taliban dan memungkinkan penggelaran tentara guna mengurangi aksi perlawanan sebelum rakyat Afghanistan berpaling menentang kehadiran pasukan internasional dan pendapat masyarakat Barat menuntut pemulangan tentara, kata beberapa pengulas keamanan.
"Sejauh ini, kami mengetahui bahwa 12 orang telah tewas oleh pemboman AS," kata Tameem Nooristani, Gubernur Provinsi Nooristan di bagian timur negeri itu. "Mereka hanyalah pekerja pembuatan jalan yang tak bersalah dan miskin."
Tentara AS telah diberitahu bahwa seorang komandan Taliban yang ditakuti berada di daerah tersebut, katanya, tapi menyerang sasaran yang keliru.
Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF), pimpinan NATO, menyatakan serangan udara telah dilancarkan terhadap "posisi persembunyian Taliban di daerah itu" Selasa, dan penyelidikan sedang dilakukan guna memastikan apakah ada warga sipil yang telah tewas.
"ISAF terlibat di Noor Galam dan Dowa, di tempat itu kami menggunakan serangan udara terhadap Taliban," kata juru bicara ISAF Brigadir Jenderal Carlos Branco pada suatu taklimat.
"Situasi tidak jelas sama sekali pada tahap ini, kami sedang melakukan penyelidikan ... tapi untuk sementara tak ada penilaian pasti," katanya.
Pentagon, Rabu petang, menyatakan seorang komandan Taliban "telah tewas dalam serangan udara tersebut" dan tempat pembangunan terdekat yang diketahui berada kurang-lebih satu kilometer dari tempat peristiwa itu.
"Tak ada pembangunan, kendaraan atau peralatan pembangunan apa pun di dalam lingkungan daerah yang terkena dampak," kata Sekretaris Pers Pentagon Geoff Morrell kepada wartawan.
"Kami percaya bahwa Abdullah Jan, komandan Taliban di Nooristan barat, mungkin telah tewas dalam serangan udara itu. Kami, saat ini, menganggapnya sebagai serangan udara yang sah," katanya.
Seorang kepala polisi provinsi melaporkan pada September bahwa seorang pemimpin Taliban bernama Abdullah Jan telah tewas dalam satu serangan udara.
Meskipun hampir semua tentara ISAF di lapangan di Afghanistan timur adalah warga negara Amerika, pesawat dari sejumlah negara NATO mungkin menanggapi permintaan bagi dukungan udara.
Pemimpin perusahaan pembuatan jalan di Afghanistan mengatakan 25 pegawainya tewas dalam peristiwa tersebut. Sembilan-belas mayat dibawa ke satu rumah sakit di kota Jalalabad, Afghanistan timur, kata seorang dokter di sana.
Tidak mungkin untuk mengabsahkan peristiwa tersebut secara terpisah karena bahaya dan terpencilnya daerah itu.
Afghanistan telah menghadapi peningkatan kerusuhan sejak Taliban melancarkan kembali aksi perlawanan guna menggulingkan pemerintah Afghanistan, pro-Barat, dan mengusir lebih dari 50.000 prajurit asing dua tahun lalu. (*/cax)