Perolehan Devisa Perdagangan Tuna Naik 50%

Kapanlagi.com - Perdagangan tuna hasil tangkapan pengusaha di Bali ke pasaran ekspor menghasilkan devisa US$46,9 juta selama Januari-Oktober 2007, naik 50% jika dibandingkan periode sama 2006 yang tercatat US$31,4 juta.

Perolehan devisa dari ekspor tuna segar maupun yang sudah dibekukan sepuluh bulan pertama 2007 mengalami kenaikan cukup menggembirakan, kata Kasubdin Perdagangan Luar Negeri, Disperindag Bali, Ni Wayan Kusumawathi di Denpasar, Jumat (30/11).

Bertambah banyaknya meraup dolar dari tuna, berkat pengusaha mengapalkan 14.167 ton tuna segar dan yang sudah dibekukan selama Januari-Oktober 2007. Jumlah itu naik 69% dari periode sama sebelumnya 8.362 ton.

Dari laporan Disperindag menyebutkan, harga rata-rata tuna dari Bali di pasaran dunia sebenarnya berkurang dari rata-rata US$3,7 per kg tahun lalu, menjadi hanya rata-rata US$3,3 per kg tahun 2007.

Selain harga turun di pasaran ekspor, pengusaha sebenarnya diterpa banyak masalah, yakni adanya kenaikan harga BBM dan kebijakan yang dianggap kurang menguntungkan, sehingga pernah mengancam semua kapal tidak dioperasikan.

Ada sekitar 700 kapal penangkap tuna long line yang mangkal di Pelabuhan Benoa, 15 Km selatan Denpasar dan beroperasi setiap saat guna memenuhi permintaan pasar terutama yang datang dari Jepang, AS, China dan Taiwan.

Walau terjadi banyak permasalahan yang menerpa para pengusaha penangkapan ikan di laut itu, namun berkat keuletannya dalam beroperasi maka volume perdagangan ekspor meningkat terus sekaligus mendongkrak perolehan devisa.

Tuna masih menjadi salah satu andalan ekspor nonmigas Bali selain pakaian jadi, kata Kusumawathi seraya menyebutkan bahwa Bali memperdagangkan sedikitnya sembilan jenis hasil laut yang memasuki pasar ekspor.

Hasil laut yang memasuki pasar ekspor selama ini yakni selain tuna juga ikan hias hidup, kepiting, kakap, kerapu, nener (bibit bandeng), lobster, sirip ikan hiu dan rumput laut yang banyak dihasilkan petani Nusa Penida. (*/lpk)

©2003-2007 KapanLagi.com