< >

Sepuluh Tahun Lagi Kupang Alami Krisis Air Hebat

Minggu, 02 Desember 2007 09:13
Kapanlagi.com - Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada sepuluh tahun mendatang akan mengalami krisis air baku hebat, jika daerah-daerah resapan air tidak segera diselamatkan mulai dari sekarang.

Perkiraan ini berdasarkan tren penurunan debit air baku secara drastis selama lima tahun terakhir, kata Direktur Utama PDAM Kupang, Masya Djonu, di Kupang, Sabtu terkait masalah air bersih yang terus melanda wilayah itu dari tahun ke tahun.

"Memang perlu ada penelitian untuk membenarkan pandangan ini, tetapi saya berbicara berdasarkan trend penurunan debit air baku dalam beberapa tahun terakhir yang begitu drastis," katanya.

Sumber mata air Oepura yang selama ini tidak pernah terpengaruh dengan musim kemarau, tahun ini mengalami penurunan drastis dari 40 liter/detik menjadi hanya delapan liter/detik, begitupun dengan sumber mata air lainnya.

Penurunan debit air secara drastis ini disebabkan karena perkembangan kawasan pemukiman yang tidak didukung dengan pembangunan peresapan air, penghijauan dan membangun kembali jebakan-jebakan air yang pernah dibangun sepuluh tahun lalu.

"Ini sesuatu yang sangat membahayakan. Saya perkirakan bisa terjadi bencana kekeringan hebat dan orang akan sulit memperoleh air baku hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan minum dan memasak," katanya.

Karena itu, dia mengatakan, perlu ada gerakan menanam, membangun kembali jebakan-jebakan air, persiapan peresapan pada kawasan pemukiman untuk menyelamatkan daerah resapan air yang selama ini mensuplai air baku bagi kebutuhan warga.

Debit air pada sumber-sumber mata air di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), saat ini mengalami penurunan drastis antara 50-60%, sehingga menyulitkan perusahaan daerah air minum (PDAM) mendistribusikan air baku kepada konsumen.

"Sekarang ini debit air hanya sekitar 260 liter/detik dari keadaan normal sekitar 500/liter/detik. Dari jumlah ini ada sumber air yang beroperasi selama 24 jam, ada yang hanya 12 jam karena menggunakan pompa," katanya.

Debit air yang mengalami penurunan drastis itu antara lain, sumber air Baumata dari 75 liter/detik menjadi 18-20 liter/detik, air sagu dari 119 liter menjadi hanya sekitar 18 liter/detik dan sumber mara air Oepura yang dalam sejarah tidak pernah mengalami penurunan, saat ini turun dari 40 liter/detik menjadi hanya delapan liter/detik.

Masalah air baku pada tahun ini paling parah, karena dari 20 sumber mata air yang bisa diandalkan seperti Baumata, Oepura, Amnesi, Kolhua, Anleui dan Ankolo semuanya mengalami penurunan drastis. Sekarang kita pusing bagaimana mengatur distribusi air ke pelanggan," katanya.

Satu-satunya sumber air yang masih bisa membantu saat ini adalah berasal dari Bendungan Tilong yang mampu mensuplay 150 liter/detik ke reservoar Baumata untuk didistribusikan kepada para pelanggan.

Bangun Waduk

Dia menyarankan agar perlu dipertimbangkan untuk dibangun waduk di kawasan sekitar perumahan BTN Kolhua. Ini untuk mengantisipasi masalah air bersih di masa datang.

Jika waduk dibangun, maka seluruh warga Kota Kupang dan Kabupaten Kupang tidak akan mengalami kesulitan air lagi, katanya. (*/lpk)