Wakil Presdir PT Astra Daihatsu Motor (ADM), Sudirman MR kepada ANTARA di Jakarta, Senin, mengatakan sejak beberapa hari lalu, listrik di pabrik otomotif itu sering padam tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
"Pemadamannya cukup lama sekitar tiga jam, sehingga mengganggu produksi kami," ujarnya.
Untuk menjamin pasokan listrik ke pabrik otomotif yang terletak di Sunter, Jakarta Utara itu, pihaknya pernah menawarkan kepada PLN untuk membantu pendanaan untuk mengatasi biaya perawatan instalasi listrik.
"Bagi kami yang terpenting pasokan listrik stabil, sehingga kami bisa produksi dengan lancar. Namun PLN menolak bantuan tersebut dengan alasan masih bisa mengatasi masalahnya," ujar Sudirman.
Hal senada dikemukan Ketua Umum Gabungan Asosiasi Perusahaan Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (Gamma) A Safiun, bahwa ketersedian pasokan listrik di bawah kebutuhan industri nasional membuat harga listrik di Indonesia mahal.
"Memang PLN tidak menaikan TDL (tarif dasar listrik), namun begitu kami menggunakan listrik di atas ketentuan dikenakan biaya tambahan yang tinggi," ujarnya.
Akibatnya, lanjut dia, biaya produksi meningkat, sehingga menurunkan daya saing industri nasional, sementara itu, rata-rata industri nasional boros energi.
Berdasarkan penelitian organisasi riset energi dari Jepang, NEDO (New Energy and Industrial Technology Development Organization), pemakaian energi industri di Indonesia lebih boros sekitar 17 persen dibandingkan industri di Jepang.
"Dengan demikian komponen energi menjadi kunci penting dalam biaya produksi industri di Indonesia," katanya.
PLN sebagai satu-satunya pemasok energi listrik di Indonesia dinilainya justru tidak efisien, karena masih mengandalkan pembangkit listrik berbahan bakar minyak (BBM) akibat pasokan gas yang minim di dalam negeri.
Safiun menilai di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia saat ini industri nasional akan semakin menderita. (kpl/rit)