"Sekarang, mereka sudah menyelesaikan studi kelayakan mengenai FTA dan saat ini sedang rapat di Australia. Keputusannya setelah April, apakah akan dilanjutkan ke tahap negosiasi atau tidak," kata Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, di Jakarta, Senin.
Menurut Mendag, jika akhirnya diputuskan untuk dilakukan negosiasi FTA antara RI dan Australia, prosesnya akan memakan waktu antara 1-2 tahun kemudian.
Target dari adanya FTA RI-Australia, lanjut Mendag, adalah untuk meningkatkan kerja sama perdagangan dan investasi, serta kerja sama lainnya seperti pendidikan atau pelatihan.
Selama ini, produk andalan ekspor Indonesia ke Australia antara lain tekstil dan produk tekstil (TPT), otomotif, mineral dan pertanian. Nilai ekspor Indonesia ke Australia selama 2007 diperkirakan mencapai US$4 miliar.
Meski demikian, ekspor produk Indonesia ke Australia masih mengalami hambatan dalam pemenuhan syarat teknis dan kesehatan.
"Ini butuh kerja sama karena importir di sana juga berkepentingan. Apa perlu ada insentif untuk menyelesaikannya?," ujar Mendag.
PMB Baru
Terkait terpilihnya Perdana Menteri (PM) baru Australia, Kevin Ruud, Mendag berharap peningkatan hubungan dua negara yang telah terjadi selama ini dapat terus berlanjut.
"Pemerintah Australia yang baru memang dari pernyataannya ingin membangun kerja sama yang lebih baik," ujar Mendag.
Mendag juga menyambut baik kunjungan Menteri Perdagangan Australia yang baru Simon Green ke Jakarta pekan ini.
"Tidak hanya dalam rangka konferensi PBB untuk perubahan iklim di Bali, tapi ia akan ke Jakarta lebih dulu untuk kerja sama bilateral. Saya rasa ini pertanda baik," jelasnya. (kpl/rit)