< >

Negara Kaya Diharap Bisa Manfaatkan Pekerja Wanita Imigran

Selasa, 04 Desember 2007 12:29
Kapanlagi.com - Negara-negara kaya diharapkan mempekerjakan lebih banyak pekerja wanita dari negara berkembang, sebagai upaya untuk membongkar kebuntuan pembicaraan perdagangan jasa Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), demikian hasil kajian Bank Dunia, Selasa.

Negara maju saat ini enggan memanfaatkan tenaga migran dari negara berkembang, seperti sebagai perawat atau ahli TI sebagai bagian dari proprosal Kesepakatan Bersama Perdagangan Jasa (General Agreement on Trade in Services/GATS), dengan alasan migran tersebut bisa tinggal permanen.

Namun laporan Bank Dunia setebal 218 halaman yang ditulis oleh tiga ekonom Bank Dunia itu mengatakan, wanita cenderung kurang ingin menetap secara permanen dibanding pria, sehingga harus dimanfaatkan tenaganya.

"Ini merupakan proposal yang inovatif, namun masih dibutuhkan riset yang lebih mendalam," kata Mirja Sjoblom, salah satu penulis laporan itu.

Laporan yang dirilis pekan lalu itu juga mengungkapkan ketakutan itu sebagai "berlebihan".

Pemerintah negara tujuan sebenarnya dapat menerapkan kebijakan yang ketat sehingga dapat mengurangi keinginan untuk tinggal lebih lama, termasuk memberi sanksi pada perusahaan-perusahaan yang memiliki pekerja tidak mau pulang ke negara masing-masing setelah kontrak berakhir.

Berdasarkan negosiasi yang disebut Mode IV GATS pada Putaran DOHA, negara berkembang terus mendorong keinginan untuk memasukkan lebih banyak pekerja mereka ke negara-negara maju di sektor jasa sebagai pekerja temporer. Namun usul itu ditolak oleh negara-negara maju.

Kajian Bank Dunia mengungkapkan langkah itu "bakal membentuk mekanisme yang lebih baik untuk pemberdayaan wanita."

Permintaan negara maju akan pelayan-pelayan jasa yang secara tradisional dilakukan wanita tumbuh dengan cepat, termasuk untuk pekerjaan rumahan seperti perawat atau pembantu rumah tangga.

Tiga keuntungan bisa diperoleh dengan mempekerjakan pekerja jasa wanita, daripada pria.

Pertama, karena wanita lebih terikat dengan keluarga, maka lebih besar kemungkinan untuk kembali pulang setelah habis kontrak.

Kedua, karakter pekerja rumahan seperti perawat dan pembantu rumah tangga lebih memungkinkan wanita berpendidikan berpartisipasi di lapangan kerja.

Ketiga, migran wanita akan menikmati keuntungan kesepakatan "Mode IV" karena akan mengurangi kemungkinan penyiksaan oleh majikan.

"Perdagangan jasa bagi pekerja pria berdasarkan `Mode IV` akan dipertimbangkan," jelas laporan itu.

Liberalisasi perdagangan jasa menjadi kunci perkembangan negosiasi Putaran Doha untuk membuat sistem perdagangan internasional bisa dinikmati negara berkembang. (kpl/rit)