Kasubdin Statistik dan Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jatim, Djoko Santoso, di Surabaya, Selasa, menjelaskan, pendorong utama inflasi di Jatim pada November 2007 adalah naiknya harga bawang merah, emas perhiasan, kelapa, tomat sayur dan cabe rawit.
Menurut dia, komoditi itu mengalami kenaikan di semua kota di Jatim. Bawang merah misalnya mengalami kenaikan sebesar 40% dan emas perhiasan sembilan%. Komoditi-komoditi itu menyumbang inflasi 0,37% dari 0,48% inflasi Jatim.
Sedangkan penghambat utama inflasi di Jatim diantaranya adalah turunnya harga cabe merah, daging ayam ras, bandeng, salak buah dan ikan tongkol di semua kota.
Inflasi di Jatim yang merupakan hasil komposif dari 13 kota di Jatim pada November 2007 tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan inflasi periode yang sama 2005 sebesar 0,63% dan 2006 0,55%.
Penyebabnya, setiap Nopember umumnya permintaan pasar terhadap barang mulai menurun, terutama setelah Hari Raya Idul Fitri, sehingga terjadinya inflasi pada bulan tersebut dipengaruhi komoditi musiman seperti beras dan cabe merah.
Sementara itu, berdasarkan hasil pantauan BPS Jatim di 13 Kota di Jatim, terjadinya inflasi pada bulan Nopember disebabkan naiknya harga seluruh kelompok pengeluaran.
Kelompok bahan makanan mengalami kenaikan harga 0,7187%, makanan jadi, minuman, rokok dan terbakau naik 0,3479%, perumahan,air, listrik dan bahan bakar 0,4054%, sandang naik 1,9135%, kesehatan naik 0,2608%, pendidikan, rekreasi dan olahraga naik 0,0258% serta transportasi, komunikasi, jasa keuangan naik 0,0898%.
Walaupun kenaikannya tidak terlalu tinggi, kelompok bahan makanan ini merupakan penyumbang terbesar inflasi Jatim, yakni 0,1796%.
Kelompok bahan makanan yang memberikan sumbangan tertinggi terhadap inflasi adalah komoditi bawang merah yakni 0,1596%, kelapa 0,0508% dan tomat sayur 0,0399%.
Beberapa komoditi lain seperti ikan gurami, sayur bayam dan cabe rawit juga memberikan sumbangan inflasi cukup signifikan sekitar 0,1%. Sedangkan kelompok sandang memberikan sumbangan yakni 0,1153%.
Kumulatif
Jika dilihat dari kumulatifnya, hingga Nopember tinkat inflasi di Jatim mencapai 5,44%. Inflasi tertinggi terjadi di Jember yaitu 6,09% dan terendah di Tuban 4,59%.
Sedangkan dari enam kota di Pulau Jawa yakni Jakarta, Bandung, Banten, Semarang, Jogjakarta dan Surabaya pada November 2007, lima kota mengalami inflasi dan satu kota deflasi.
Inflasi tertinggi terjadi di Yogyakarta yaitu 1,01% sedangkan Jakarta mengalami deflasi -0,24%. Sementara laju inflasi pada Nopember tertinggi di Yogyakarta 7,46% dan terendah di Bandung 4,44%.
Menurut data BPS, dari 54 kota di Indonesia pada Nopember 2007, inflasi tertinggi terjadi di Manado sebesar 2,01%, Palangkaraya 1,93%, Kendari 1,23%, Jambi 1,06% dan Yogyakarta 1,01%. Deflasi tertinggi terjadi di Makasar sebesar -1,74%, Ternate -,1,37%, Bengkulu -1,08%, Lhok Seumawe -0,98% dan Purwokerto -0,54%.
Sementara itu, tingkat inflasi di Jatim hingga akhir 2007 sebesar 6,65% dan nasional 6,71%. (kpl/rit)