< >

BTN Realisasikan 100.000 Rumah Sederhana Akhir Tahun 2007

Rabu, 05 Desember 2007 06:15
Kapanlagi.com - Bank Tabungan Negara (BTN) memastikan akan merealisasikan Kredit Pemilikan Rumah Sederhana Sehat (KPRSH) 100.000 lebih pada tahun 2007 dalam sisa waktu satu bulan ke depan.

"Sampai November 2007 sudah direalisasikan 87.035 unit KPRSH, sedangkan permohonan baru yang masuk 17.225 unit," kata Direktur Utama BTN, Kodradi di Jakarta, Senin (03/12), disela-sela Seminar Sehari bertajuk Prospek Ekonomi Perbankan dan Properti tahun 2008 Tantangan dan Harapan.

Apabila permohonan tersebut dapat direalisasikan 13.000 saja sampai akhir tahun 2007 berarti sudah dapat direalisasikan 100.035 unit. Sudah lebih tinggi dibanding realisasi tahun 2006 sebanyak 83.648 unit, jelas Kodradi.

Terkait dengan prestasi tersebut, Kodradi mengatakan, BTN akan mengalokasikan kredit Rp10,4 triliun tahun 2008, lebih tinggi dibandingkan tahun 2007 sebesar Rp7,9 triliun. Sedangkan untuk KPRSH ditargetkan sebanyak 125.000 unit.

Target-target tahun 2008 tersebut akan disampaikan kepada pemerintah selaku pemegang saham Bank BTN dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) bulan Desember 2007. "Pra RUPS akan diselenggarakan Jumat (07/12) ini," ujarnya.

Kodradi optimis untuk pasar KPRSH tahun 2008 BTN tetap memegang peranan utama. Pangsa pasar sendiri dalam tahun 2007 ini sudah 97%, sehingga dalam tahun 2008 kurang lebih posisinya akan sama.

Sedangkan untuk tingkat bunga, Kodradi mengatakan, berdasarkan prediksi pengamat ekonomi seperti dilontarkan Iman Sugema dari IPB dan Ryan Kiryanto dari Bank BNI masih bisa turun.

Posisi bunga BTN sendiri, kata Kodradi, sampai Desember 2007 sudah 9,75%. Apabila prediksi para ekonomi itu benar, maka pihaknya optimis tingkat bunga masih dapat diturunkan kembali.

Menyangkut alokasi kredit Rp10,4 triliun, Kodradi mengatakan, sebanyak Rp4 triliun berasal dari pengembalian kredit sebelumnya, penerbitan obligasi Rp1 triliun, penjualan aset KPR kepada PT Sarana Multigriya Finansial sebesar Rp500 miliar, penerbitan saham perdana (IPO) Rp2 triliun, penjualan obligasi rekap Rp1 triliun serta sisanya dari sumber lain termasuk dana pihak ketiga.

Kodradi mengakui, melalui IPO memang bukan ditujukan secara langsung bagi kredit. "Tetapi yang jelas modalnya menjadi kuat dilihat dari Rasio Kecukupan Modal (CAR) sehingga kemampuan menyalurkan kredit juga bertambah," ujarnya.

BTN, kata Kodradi juga telah melunasi penerbitan delapan obligasi sebelumnya, satu obligasi yang akan jatuh tempo tahun 2008 sebanyak Rp750 miliar. Saat ini masih ada tiga obligasi lagi senilai Rp3,5 triliun. (*/lpk)