Saat ditemui sela-sela kesibukannya di Desa Sekarputih, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk, Rabu, Lamidi menuturkan ide kreatifnya itu bermula saat dia kesulitan membuang limbah produksi Tahu.
"Bahkan kami sempat mendapat teguran dari pemerintah daerah saat limbah itu kami buang ke sungai," katanya sambil menunjuk aliran sungai yang ada di belakang tempat usaha miliknya itu.
Dia menyadari perbuatannya itu dapat mengganggu kesehatan akibat bau menyengat yang ditimbulkan dari ampas Tahu dalam jumlah besar. Lalu diapun membuat semacam bak penampungan yang tertutup rapat.
Setelah itu limbah yang tertampung di dalam digester (semacam bak penampungan) itu menjalani proses fermentasi. "Proses fermentasi bakteri anaerob yang terkandung di dalam limbah Tahu itulah yang menjadi biogas," katanya menjelaskan.
Selain prosesnya sederhana, pemanfaatan limbah Tahu sebagai bahan bakar biogas itu tidak memerlukan biaya besar. Lamidi mengaku, untuk membuat empat digester dibutuhkan biaya sekitar Rp17 juta.
Kemudian, lanjut dia, proses fermentasi bakteri anaerob itu disalurkan melalui pipa PVC ke beberapa tungku perapian untuk proses pembuatan Tahu.
"Kualitas apinya tak kalah bagus dibandingkan dengan gas elpiji dan bahan bakar lainnya," kata Lamidi menambahkan.
Bahkan dengan memanfaatkan energi alternatif yang ditemukannya itu, Lamidi mengaku, biaya produksi Tahu bisa dihemat hingga mencapai 50 persen jika dibandingkan dengan menggunakan bahan bakar gas elpiji atau minyak tanah secara penuh. (*/boo)
sepertina apa yang dilakukan oleh pengrajin tahu ni sangat kreatif,namun masih blum cukup detail,penjelasan cra prosesna,krn saya jug pengrajin tahu,jdi say butuh info yng lebih lengkap,agr saya bisa terap kan pda usaha saya.trims
kurang cukup..
masalahnya tidak adanya skema pembuatannya..
mohon dikirim skema pembuatannya yg lengkap.
terima kasih partisipasinya