"Hutan merupakan jantung dari kehidupan masyarakat baik secara ekonomi maupun dalam usaha untuk mengurangi pemanasan global yang sekarang menjadi topik utama dalam pembahasan mengenai perubahan iklim," katanya setelah menghadiri peluncuran kegiatan percontohan REDD yang akan diimplementasi oleh Indonesia di Hotel Ayodia, Bali, Kamis.
Dalam beberapa bulan terakhir ini ada sekitar 3.000 rumah masyarakat yang disapu banjir akibat deforestasi maupun degradasi hutan di Aceh. Kondisi ini tentu menjadi keprihatinan bersama dari segenap elemen bangsa terhadap musibah seperti ini.
Kerusakan hutan di Provinsi Aceh sudah terjadi sejak era pemerintahan Presiden Soeharto dan kemudian terus berlangsung sampai waktu Irwandi diangkat sebagai Gubernur terpilih di Aceh di tahun 2006.
"Pertama kali yang saya lakukan pada waktu saya diangkat sebagai gubernur adalah melakukan moratorium terhadap segala kegiatan pembalakan hutan baik legal maupun tidak legal. Kebijakan ini saya keluarkan pada tanggal 6 Juni 2006," katanya.
Ada sekitar satu juta hektare lahan yang dalam keadaan rusak (degradasi) di Aceh akibat praktek pemanfaatan legal dan perambah ilegal (illegal loggers). Apabila moratorium tidak diambil, mau tak mau hutan tentu akan bertambah rusak, sementara itu perambah hutan liar bertambah kaya.
"Kerusakan hutan yang dilakukan oleh pembalak hutan liar terjadi sekitar 200.000 hektare per tahun dan 20.000 hektare per tahun sebelum moratorium diterapkan," katanya. Dia menambahkan bahwa sekarang ini setelah diberlakukannya moratorium, sudah terjadi penurunan sekitar 60 persen dari 20.000 hektare per tahun dari lahan hutan yang rusak.
Ia juga mengatakan kerusakan hutan juga banyak terjadi di masa pasca tsunami, banyak kayu yang diperlukan untuk membangun kembali rumah- rumah untuk para korban tsunami.
"Pada waktu saya jadi gubernur, saya memanggil para pimpinan proyek baik dari pihak Indonesia maupun luar negeri untuk memperkecil biaya, membuat rumah dari kayu. Hasilnya juga cukup baik," ujarnya.
Lebih jauh ia menjelaskan bahwa ada atau tidak ada dana, pihaknya mempunyai tiga strategi untuk membangun hutan, yaitu menanam pohon dekat pinggir sungai , menanam pohon buah yang dapat memberi manfaat makanan langsung bagi masyarakat dan menanam pohon seperti halnya yang dilakukan dalam program hutan tanaman industri.
Karena itulah, pemerintah dan segenap masyarakat Aceh mendukung penuh usaha pemerintah pusat yang menyelenggarakan konferensi mengenai perubahan cuaca serta pelaksanaan REDD yang prinsipnya memberikan keuntungan yang banyak terhadap rakyat yang tinggal dekat hutan, tambahnya. (*/cax)