< >

Medan, Tuan Rumah Festival Film Asia Afrika 2007

Kamis, 06 Desember 2007 18:21
Kapanlagi.com - Kota Medan bersama sejumlah kota lain di Indonesia seperti Bandung, Balikpapan dan Gorontalo menjadi tuan rumah bersama Festival Film Asia-Afrika 2007.

Festival tersebut akan dilangsungkan di beberapa universitas terkemuka di masing-masing kota, 6-8 Desember 2007, kata staf Departemen Luar Negeri, Imanuel Ginting di Medan, Kamis (6/12).

Menurut dia, festival tersebut bertujuan untuk lebih memperkenalkan keanekaragaman seni dan budaya negara-negara Asia-Afrika kepada masyarakat Indonesia terutama generasi muda.

Universitas yang menjadi penyelenggara festival tersebut masing-masing Universitas Sumatera Utara, Universitas Negeri Medan, Universitas Parahyangan, ITB Bandung, Universitas Tri Darma Balikpapan dan Universitas Negeri Gorontolo.

"Festival ini merupakan kerjasama Departemen Luar Negeri dengan Kedutaan Besar negara-negara Asia dan Afrika di Jakarta," katanya.

Lebih jauh dikatakannya, Asia dan Afrika merupakan dua benua yang memiliki penduduk empat milyar dengan sumber daya alam yang berlimpah serta sejarah budaya yang kaya.

Menurut Ginting, festival film yang digelar di lingkungan kampus itu diharapkan akan semakin menambah wawasan mahasiswa tentang karya seni negara-negara di Asia dan Afrika. "Festival ini juga akan semakin mempererat hubungan masyarakat di kedua benua," ujarnya.

Lebih jauh ia mengatakan, sebanyak 14 film akan ditampilkan oleh 14 negara Asia-Afrika, beberapa di antaranya film dengan judul BLACK EYES (Iran) dan CHASHMA (Uzbekistan), THE CLAY BIRD (Bangladesh) dan MANGAL PANDEY (India).

Kemudian film KING KYANSITT (Myanmar), NAGA BONAR (Indonesia), JOINT SECURITY AREA (Korea Selatan), I`ENNEMI INTIME (Aljazair), AFRIKA`S DILEMA (Kenya), SEMAYAWI FERESE (Ethiopia), THE OVERTURE (Thailand), NITABOH (Jepang), dan TOGETHER (China).

Menurut dia, Festival Film Asia-Afrika tersebut tampil beda dengan festival film internasional lainnya karena melibatkan Kedutaan Besar negara-negara Asia-Afrika di Jakarta.

"Secara tidak langsung film yang dikirimkan oleh pihak kedutaan merupakan film yang berkualitas tinggi dan mewakili negara yang bersangkutan, karena yang ditampilkan adalah film tentang budaya, sosial, sejarah, realitas, perjuangan, nasionalisme dan pendidikan," ujarnya. (*/boo)


BERITA TERKAIT