"Ini akibat rusaknya kawasan hutan sebagai daerah tangkapan air di wilayah Bojonegoro dan sekitarnya," kata Koordinator Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Bengawan Solo di Bojonegoro, Moelyono, Kamis.
Dijelaskan, banjir bandang juga bisa terjadi akibat curah hujan yang melebihi 100 mm, seperti banjir bandang yang melanda di sejumlah desa di Kecamatan Dander dan Sukosewu pada 3 Desember lalu itu. Stasiun Pemantauan Cuaca Klepek mencatat, curah hujan saat itu mencapai 148 mm.
Dengan curah hujan setinggi itu banjir bandang bercampur lumpur telah menerjang sejumlah desa di Kecamatan Dander dan Sukosewu, yang menyebabkan 1.760 rumah, satu puskesmas, dan satu sekolahan, rusak.
"Di permukiman warga, kala itu ketinggian air akibat banjir bandang tersebut mencapai 1,8 meter," katanya.
Menurut Moelyono di antara anak sungai di wilayah Bojonegoro yang berpotensi menimbulkan banjir bandang bercampur lumpur yakni Kali Kening di wilayah Tuban masuk ke Bojonegoro, Kali Semar Mendhem di Baureno, Kali Kedungbajul di Kalitidu, Kali Kalitidu, Kali Bendo, dan kali lainnya.
Menurut dia, di muara anak Sungai Bengawan Solo tersebut hampir semua tebingnya longsor sehingga berpotensi menimbulkan banjir bandang.
Moelyono menilai, tingkat keberhasilan penghijauan yang dilakukan Perhutani di kawasan hutan Bojonegoro tidak lebih dari 50 persen sehingga daerah tangkapan air di kawasan hutan belum bisa berfungsi optimal.
"Kalau di daerah anak Sungai Bengawan Solo secara bersamaan terjadi hujan dengan curah di atas 100 mm, bisa dipastikan Bojonegoro akan klelep (tenggelam)," katanya. (*/boo)