< >

ASITA-INCCA: Promosi Jangan Hanya Lewat Internet

Jum'at, 07 Desember 2007 14:10
Kapanlagi.com - Asosiasi Kongres dan Konvensi Indonesia (Indonesia Congress and Convention Association - INCCA) dan Association of the Indonesia Tours & Travel Agencies (Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesi - Asita) mengingatkan, promosi pariwisata jangan hanya mengandalkan melalui internet, tetapi tetap harus melakukan promosi konvensional.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua INCCA, Iqbal Alan Abdullah dan Ketua DPP Asita, Ben Sukma Harahap menanggapi peluncuran secara resmi situs pariwisata Indonesia dengan alamat www.my-indonesia.info oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata sebagai ujung tombak promosi pariwisata Indonesia melalui media internet.

"Promosi pariwisata hanya mengandalkan situs tidak cukup sama sekali. Situs itu hanya sebagai pelengkap. Calon wisatawan membuka situs hanya untuk mencari informasi tambahan," kata Iqbal yang dihubungi di Jakarta, Jumat.

Dia mengatakan salah besar bila Depbudpar hanya mengandalkan situs pariwisata tersebut untuk berpromosi.

"Situs hanya salah satu alat marketing. Situs itu harus diintegrasikan dengan cara marketing konvensional, antara lain `merchandising`, `public relation`, `advertising`, `sales`, `direct sales`, dan banyak komponen marketing lainnya," lanjut Iqbal.

Walaupun 60 persen calon wisatawan mencari informasi pariwisata lewat internet, Iqbal mengatakan bukan berarti wisatawan datang ke sebuah tujuan pariwisata setelah melihat sebuah situs informasi pariwisata.

"Banyak faktor yang membuat orang berpariwisata. Biasanya calon wisatawan memang sudah merencanakan untuk berlibur ke satu daerah, misal mau ke Yogyakarta, baru kemudian mencari informasi lebih lanjut mengenai Yogya melalui internet," terang Iqbal.

Meskipun begitu, Iqbal menyetujui adanya situs www.my-indonesia.info untuk mempromosikan pariwisata Indonesia ke tingkat dunia.

"Yang paling penting informasi dalam situs itu harus selalu `up date`, informasi harus `real time`. Jangan berita minggu lalu atau tiga bulan lalu masih ada. Orang akan tertarik lihat situs itu karena ingin melihat perubahan Indoneisa hari per hari," kata Iqbal.

Sedangkan Ben Sukma mengatakan situs pariwisata Indonesia tersebut bagus untuk memberikan informasi pariwisata terutama untuk calon wisatawan mancanegara.

Akan tetapi promosi secara konvensional tetap harus dilakukan karena kebutuhan informasi tiap calon wisatawan berbeda.

Ben mengatakan informasi yang didapat dari internet biasanya menjadi titik awal, setelah itu calon wisatawan mencari informasi lebih lanjut ke biro perjalanan atau ke kedutaan Indonesia.

Ketua DPP ASITA itu menambahkan hal yang penting untuk diinformasikan dalam situs pariwisata itu adalah masalah keamanan Indonesia.

"Keamanan itu yang paling penting, jadi ada pernyataan dari pejabat publik, gubernur atau Kapolri bahwa Indonesia itu aman sehingga wisatawan mau datang," tambah Ben Sukma.

Sebelumnya, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Kamis meluncurkan situs internet pariwisata Indonesia www.my-indonesia.info sebagai bagian dari media promosi mendukung kampanye Visit Indonesia Year 2008.

Situs resmi pariwisata itu, kata Direktur Jenderal Pemasaran Departemen Kebudanyaan dan Priwisata, Thamrin B. Bachri kepada pers di Jakarta, Kamis, sudah dapat disejajarkan dengan situs pariwisata internasional, baik dari sisi tampilan, fitur, maupun posisi di "search engine international".

Pemerintah juga berharap, dengan peluncuran itu tidak hanya dapat memberikan informasi tentang Indonesia, tetapi lebih dari itu meningkatkan jumlah kedatangan wisatawan mancanegara dan pergerakan wisata nusantara, katanya.

Indonesia memiliki banyak objek wisata yang layak dikunjungi, tetapi jika kurang promosi dan informasinya, maka para wisman itu tak akan kenal, katanya.

Sektor pariwisata, salah satu industri andalan pemerintah untuk menarik devisa negara dan menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat.

Untuk itu, kata Thamrin, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata terus melaksanakan kegiatan untuk meningkatkan promosi dan citra pariwisata Indonesia, termasuk dengan menyajikan informasi yang lengkap dan mudah diakses.

Industri pariwisata, baik swasta maupun badan pemerintah dan badan promosi pariwisata negara-negara lain di Asia Tenggara maupun di seluruh penjuru dunia, telah memanfaatkan internet dengan sangat agresif sebagai media promosi dan komunikasi untuk menjangkau dan melayani wisatawan.

Survei Departemen Kebudayaan dan Pariwisata menunjukkan bahwa, pada 2006, 56 persen wisatawan internasional yang datang ke Indonesia sudah menggunakan internet sebagai sumber informasi tentang tujuan wisata yang akan dikunjungi.

Menjawab pertanyaan, ia mengatakan, fitur yang diciptakan disamakan dengan situs pariwisata badan promosi dunia, untuk memudahkan para pemakai, seperti "contact form", "photo gallery", "video gallary", "calendar of of events".

Informasi hotel yang kelas kecil juga dimasukkan dalam konten itu agar para wisatawan yang uangnya pas-pasan tetap dapat berkunung ke Indonesia, katanya, seraya menambahkan, hotel kecil itu tarifnya sekitar Rp50 ribu per malam.

Di Menado, Lombok, dan Yogjakarta, sebagai tujuan para wisman itu masih banyak kamar per hari dengan tarif menginap Rp50 ribu per malam.

Dengan demikian, informasi yang ditampilkan cukup lengkap, ada tujuan wisata dan termasuk hotel-hotel berbintang lainnya, katanya. (kpl/rit)


BERITA TERKAIT