"Sebagai tahap awal program dilaksanakan di perumahan Sari Husada Agung Gunung Sindur Bogor. Bentuknya perbaikan saluran air (drainase)," kata Kepala Divisi Hukum dan Hubungan Perusahaan BTN, Harry Budiono, di lokasi perumahan itu, Sabtu (8/12).
Alasan program CSR dipilih pertama kali di Sari Husada, kata Harry, karena setiap musim hujan perumahan tersebut selalu terendam banjir bahkan setinggi betis orang dewasa akibat sempitnya saluran drainase.
Padahal, kata Harry saluran induk di perumahan tersebut sangat memadai (lebar dan dalam). Oleh karenanya dengan biaya Rp100 juta serta swadaya masyarakat saluran dibenahi agar menampung genangan air.
Program CSR yang dikembangkan BTN sebenarnya baru mulai tahun 2007 dialokasikan Rp1,5 miliar sebagian telah dimanfaatkan bagi program beasiswa anak yatim, pembangunan sekolah, bantuan bencana, sedangkan program perbaikan prasarana umum dan sosial baru sekarang ini, jelas Harry.
Dijelaskan, program CSR ini berbeda dengan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL). CSR murni dari usulan Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) yang disetujui pemerintah (Meneg BUMN).
"Sedangkan PKBL bersumber 2-3% laba dan ada aturannya, ujar Harry.
Menurutnya, banyak pengembang yang setelah seluruh lahannya habis terjual kemudian menyerahkan kepada masyarakat begitu saja tanpa membangun fasilitas umum dan sosial yang memadai.
Bagi pengembang yang tidak bertanggungjawab semacam ini, kata Harry, sesuai kebijakan perusahaan akan dimasukkan dalam daftar hitam, sehingga tidak lagi mendapatkan fasilitas kredit dari BTN.
"Bank biasanya tidak akan menyetujui permohonan kredit kepada pengembang yang memiliki track record (rekam jejak) buruk. Jadi yang dilihat bukan kepatuhan mencicil tunggakan saja tetapi hasil akhirnya," kata Harry.
Berdasarkan pengalaman, kata Harry, biasanya pengembang semacam ini memiliki beberapa pekerjaan. Jadi dia tidak fokus pada pembangunan rumah saja, akibatnya pekerjaan sebagai pengembang tidak tertangani dengan baik.
Saat ini seluruh cabang BTN tengah mendata kebutuhan prasarana perumahan yang belum tersedia. Kemudian akan diajukan untuk mendapatkan program CSR tentunya setelah mengajukan proposal berikut biayanya, kata Harry.
Pembangunan prasarana di perumahan Sari Husada merupakan proyek percontohan (pilot), serta akan dilanjutkan di lokasi lain, Sementara ini, kata Harry, fokusnya masih di Jabodetabek, namun tidak tertutup kemungkinan tahun mendatang akan dikembangkan di seluruh Indonesia.
Sedangkan untuk tahun 2008, Harry mengatakan kisaran biaya serta lokasinya masih menunggu hasil RUPS dengan pemerintah. Namun yang jelas jumlahnya harus di atas alokasi tahun 2007 ( di atas Rp1,5 miliar).
Kegiatan CSR BTN di lokasi ini mendapat dukungan masyarakat sepenuhnya. Hadir dalam pelaksanaan program ini aparat pemerintah daerah Kabupaten Bogor, serta perangkat desa termasuk sejumlah warga.
"Masyarakat ikut dilibatkan dalam program ini agar mereka ikut merasa memiliki. Sehingga ke depannya mereka secara sukarela akan ikut memelihara," ujarnya. (*/bun)