< >

ARLI Segera Bentuk Peta Potensi Rumput Laut

Minggu, 09 Desember 2007 14:21
Kapanlagi.com - DPP Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) segera membentuk peta potensi rumput laut, bekerja sama pemerintah provinsi, untuk mengetahui jumlah produksi maupun luas areal budidaya komoditi tersebut.

"Kita perlu peta potensi rumput laut di setiap provinsi agar bisa mengetahui tingkat produksi dan lahan budidaya komoditi ekspor penting tersebut," Ketua DPP ARLI, Safari Azis Husain di Makassar, Sabtu (8/12).

Untuk mengetahui tingkat produksi, diharapkan pemerintah setempat segera membuat peta potensi lahan budi daya komoditi itu di masing-masing daerahnya.

Pembuatan peta potensi tersebut dimulai dari Sulsel karena provinsi ini adalah produsen rumput laut terbesar di Tanah Air, katanya.

Karena belum diketahui potensi setiap daerah, maka berdampak pada pasar yakni harga rumput laut kering tidak menentu sehingga kerugian besar dialami nelayan.

Harga rumput laut kering saat ini cenderung naik, namun karena kualitas komoditi tersebut belum memenuhi standar ekspor, maka nelayan tetap melepas produk mereka dengan harga rendah yakni Rp5.000 per kg.

"Jika ada peta potensi dan jumlah produksi, maka kita bisa menetapkan harga sesuai dengan tingkat permintaan dan harga di pasar internasional," kata Safari yang juga Wakil Ketua Kadin Sulsel bidang perikanan dan kelautan.

Mantan Ketua ARLI Sulsel itu mengatakan, rumput laut adalah salah satu jenis komoditi ekspor andalan Sulsel yang memiliki prospek cukup menjanjikan.

Daerah pengembangan rumput lut di Sulsel adalah kabupaten Pinrang, Barru, Maros, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Sinjai, Selayar, Bone, Wajo, Luwu, Luwu Timur, dan Luwu Utara pada areal 250.000 ha sepanjang 1.973 km garis pantai .

Dari beberapa provinsi yang melakukan budidaya ganggang laut ini, Sulsel merupakan produsen terbesar, hampir menyamai produksi penghasil rumput laut terbesar dunia Chili, kata Kadis Perikanan dan Kelautan Sulsel, Syahrun.

Untuk pengembangan ganggang laut ini, sebut Syahrun, nelayan melakukan budidaya beberapa jenis yang memiliki nilai ekonomi cukup bagus antara lain, jenis eucheuma cottoni, eucheuma spinosum, grasillaria sp, gelidium sp dan sargassuum sp.

Ekspor rumput laut Indonesia sejak 2003 terus mengalami peningkatan yakni naik dari 40.162 ton bernilai US$20,51 juta menjadi 51.011 ton dengan nilai US$25,29 juta pada 2004.

Kemudian volume ekspor pada 2005 menjadi 89.264 ton bernilai US$35,55 juta dan pada 2006 naik menjadi 95.588 ton dengan nilai US$49,58 juta. (*/bun)