Kepala Badan Investasi dan Promosi (Bainprom) Sumut, Sabrina, di Medan, Minggu (9/12), mengatakan, investor asal negara jiran itu akan mengembangkan tanaman hias dan tanaman organik.
"Mereka ingin investasi lagi setelah sukses melakukan investasi serupa di Kabupaten Humbang Hasundutan sejak tiga tahun lalu," katanya.
Tidak disebutkan berapa rencana investasi EJS, Malaysia di Kabupaten Samosir itu, tapi diperkirakan lebih besar ketimbang di Humbang Hasudutan.
Di Humbang Hasundutan, areal tanaman hias yang dikembangkan perusahaan di lahan seluas 25 hektar, sementara di Samosir direncanakan seluas 120 hektar.
"Rencana investasi Malaysia itu baru secara lisan sehingga nilai investasi belum diketahui pasti," kata Kasubbid Pelayanan Administrasi Industri Bainprom Sumut, A. Malau.
Namun dia memastikan rencana investasi itu bakal terealisasi setelah melihat keseriusan calon investor tersebut.
Menurut Sabrina, rencana investasi itu, sangat melegakan Pemprov Sumut mengingat realisasi penanaman modal asing (PMA) di Sumut tahun ini (hingga September 2007) hanya US$59,3 juta dari target US$268 juta.
"Bayangkan hanya empat perusahaan yang berinvestasi termasuk perluasan dari 34 perusahaan yang sudah mendapat surat persetujuan penanaman dan perluasan modal," katanya.
Selain faktor krisis ekonomi yang masih berlangsung secara global, minimnya realisasi PMA itu juga diakui sebagai dampak masih belum adanya kepastian hukum, birokrasi yang masih belum terpangkas 100%.
Sarana dan prasarana yang belum memadai seperti krisis listrik dan energi hingga menyangkut regulasi yang masih belum seperti yang diharapkan investor. Pengusaha Sumut, Laksamana Adiyaksa, mengakui, Sumut masih dinilai potensi untuk tempat investasi di sektor perkebunan.
Salah satu negara yang memanfaatkan potensi Sumut itu, kata dia, adalah Malaysia yang ditandai dengan banyaknya perusahaan di negara itu yang mengembangkan perkebunan sawit di Sumut. (*/bun)