
"Adegan beberapa film sering dipotong oleh Lembaga Sensor Film (LSF), sehingga hal ini merupakan sebuah langkah yang salah. Saatnya Lembaga Sensor Film (LSF) direformasi," ungkap Mira, Minggu (16/12), di Hotel Madani, Medan.
Mira menambahkan, 'kekeliruan' yang seringkali dilakukan oleh LSF ini merupakan sebuah tindakan yang tidak akan mampu membuat pola pikir kalangan pencinta film tambah maju.
"Saat ini bangsa Indonesia seringkali 'dibodohi', serta tidak dianggap maju. Lihat yang terjadi dengan beberapa adegan film LONG ROAD TO HEAVEN yang dipotong dan beberapa film lainnya," jelas Mira.
Bahkan, film garapannya sendiri, yakni 3 HARI UNTUK SELAMANYA, tak luput dari gunting tajam LSF. Menurutnya, adanya adegan ciuman dan beberapa hal lainnya diperlukan sebagai suatu pembelajaran tentang hal yang baik dan buruk.
"Adegan yang dihadirkan sifatnya untuk mendidik seseorang untuk memahami sisi negatif dari tayangan itu, bukan untuk mempelajarinya. Tetapi, sejauh mana orang menyikapi dan memandang hal ini, kembali ke diri masing-masing," tutur wanita kelahiran Jakarta, 8 Agustus 1964, ini.
Jadi, masih menurutnya, dalam hal ini LSF sebenarnya tidak perlu ikut campur, tetapi cukup membuat klasifikasi terhadap film.
"Peran LSF seharusnya cukup bekerjasama dengan pihak bioskop untuk membuat sebuah klasifikasi terhadap film. Film mana yang bisa ditonton anak yang sudah cukup umur. Jadi dalam hal ini ada sebuah pembatasan. Orangtua pun bisa berperan untuk menjaga anaknya, jika menonton film dan memberikan keterangan tentang film yang akan ditonton," tutur Mira, yang pada tahun 2006 mendirikan Miles Production.
Selanjutnya Mira berharap bahwa untuk masa yang akan datang, tak akan ada lagi sebuah budaya 'pembodohan' dan pembatasan pemikiran seseorang.
"Budaya keterbukaan memang sangat diperlukan saat ini, tetapi ada beberapa batasan yang harus dijaga, sehingga ke depan tidak ada lagi 'pembodohan' terhadap sebuah film," pungkasnya. (romulo/bun)
Lihat Profil: Mira Lesmana
never give up mbak mira!maju terus MFI. hendri parsel, lo tuh nggak mutu!!!! mulut doang pedes tindakan nol besar!!! nggak ngerti film juga, sok-sok ngomong!
Pembodohan, memang terjadi pembodohan tp dr pihak loe...Loe pikir masyarakat gak punya standar moral seperti loe n teman-teman gang loe yang emang gak punya moral...baru juga naik daun udah sombong gak ketulungan, ingat man loe ada dimana kalau emang loe gak mau sensor ya udh buat aja film di Amerika atau perncis...tp loe gk punya kemampuan ynag memadai ya...sorry....cause film loe STD banget deh jadi gak usah sok deh lo....cape dech....